7S – Seven of Swords

“Sini tanganmu. Jangan malu-malulah. Kamu sudah bayar kan tadi?”

“Belum.”

“Lalu bagaimana kau bisa duduk di depanku? Kamu maling?”

“Bukan. Aku baru saja membohongimu.”

Bapak berkumis itu terdiam sesaat.

“Oke. Aku tidak jadi minta Bapak ramal. Bahkan untuk mendeteksi kebohonganku saja Bapak tak becus!”

Aku beringsut sambil melirik kumis sang bapak yang naik turun karena amarahnya.

Sudah enam peramal yang aku kunjungi sejak aku masuk ke arena karnaval ini. Empat wanita, dua pria. Terus terang, banyak yang membuat tertawa dalam hati. Ada yang bahkan membaca kartu saja terbalik, ada pula yang konyol salah mengerti warna asap yang muncul di dalam bola kacanya. Dan yang terakhir ini yang unik. Aku berbohong pun dia tidak tahu. Bagaimana dia bisa tahu masa depan yang aku sendiri belum tahu kebenarannya?

 

Rasanya tadi pemandu karnaval menyebut ada delapan orang peramal yang beraksi di karnaval tahun ini. Tahun lalu cuma enam. Empat di antaranya sudah kutemui tadi. Satu sudah meninggal, si kakek sakti itu, karena sudah uzur. Satu lagi sudah pindah karena diajak kawin lari ke Afrika. Memang banyak wajah baru di dunia ramal-meramal, aku sudah hapal fenomena ini dari tahun ke tahun. Entah mereka yang tidak puas duitnya tidak cukup, atau sekadar mencoba peruntungan nasib, siapa tahu dengan jadi peramal malah bisa kaya raya. Tapi belum tentu juga, toh beberapa peramal yang aku kenal sudah tidak meramal lagi karena merasa aura kesaktiannya kian tumpul. Contohnya gampang saja; tetangga sebelah rumah, yang gagal menebak skor final Liga Champions meskipun sudah dibayar 10 juta. Begitu tebakannya salah, “pasien”-nya menuntut uang kembali, tapi tetanggaku ini sudah keburu berkemas menuju tempat persembunyian yang aman.

“Halo Mas, sini saya ramal! Saya peramal akurat, membantu 10.000 orang memenangkan taruhan laga final sepakbola dan pernah meramalkan bencana gempa bumi! Sini Mas!”

Aku tertarik melihat peramal yang satu ini. Dia berpakaian tertutup, seperti ninja. Tapi jelas suaranya adalah suara wanita. Di depannya sama sekali tidak tampak peralatan apapun. Tidak ada kartu, tidak ada bola, tidak ada handuk. Dugaanku satu, palmistri.

“Saya bukan pembaca garis tangan Mas! Sini, ayo coba!”

Wanita yang satu ini gigih juga memaksaku untuk diramal, pikirku.

Dan satu hal yang seolah mau menggaruk-garuk dalam pikiranku: Dia tahu apa yang tengah aku pikirkan, palmistri.

Mengapa tidak mencobanya?

Setelah mengeluarkan sejumlah koin, aku duduk di depan ninja wanita yang satu ini. Dengar-dengar dari petugas penerima koin di loket wahana, ninja ini memang seorang peramal ulung yang baru saja pindah dari kota sebelah. Ada juga yang menyebut bahwa dia baru ditinggal mati suaminya yang tentara, tapi tak ada yang tahu sebenarnya siapa suami si ninja ini. Tapi dari semua bisik-bisik yang kudengar selama mengantri hampir 40 menit ini, semua sepakat kalau ninja ini adalah peramal terhebat dari semua peramal yang pernah ada di karnaval ini. Dan, karnaval ini sudah hadir setiap tahun sejak 1960. Bahkan empat generasi sebelum dia lahir pun, keluarganya semua adalah peramal. Dengan metode yang berbeda-beda. Jadi? Aku tahu aku tidak memiliki banyak pilihan.

Pernah sekali terpikirkan olehku setelah pamanku meninggal karena sebuah ramalan: Apa jadinya kalau kita bermitra dengan seorang peramal terbaik yang sanggup meramalkan apa saja yang akan kita alami? Tentunya pengalaman itu akan sangat seru! Aku membayangkan, peramal luar biasa ini bisa mendeskripsikan calon istriku, seperti apa rupa anak-anakku nanti, apakah aku akan bepergian ke Kanada, atau apakah aku cukup berbakat untuk memenangkan taruhan di Las Vegas. Dia akan memberitahuku semuanya. Mungkin, bahkan tanggal kematianku pun dia tahu.

Tapi aku tak berani membayangkan jika hasil ramalannya tak sesuai impianku. Akankah aku bisa mengubahnya? Ataukah aku harus menghabiskan sisa hidupku dengan menangisi nasib burukku?

Akan kutemukan jawabannya sesaat lagi.

 

Aku memberanikan diri untuk mulai bicara dengan si ninja.

“Kudengar kau adalah peramal istimewa. Kau meramal dengan apa?”

“Saya tidak meramal Pak. Saya hanya membaca apa yang akan terjadi pada diri Bapak dengan mendengar, melihat, dan merasakan apa yang Bapak sampaikan. Itu saja.”

Aku merasakan antusiasmeku meningkat pesat sekarang.

“Oh ya? Pernahkah ramalanmu meleset kalau begitu?”

Dia terdiam.

Aku mulai merasakan turunnya roket yang tadi mengudara.

“Jangan khawatir Pak. Selama Bapak jujur dengan diri sendiri dan dengan saya, semoga ramalan saya tepat sasaran.”

“Panggil aku Mas saja. Aku belum setua itu.”

Belum hilang rasa tegang ini sejak tadi. Malah makin jadi. Tiba-tiba aku takut dia tak sehebat ekspektasiku.

“Saya cuma mau ngasih dua syarat ke Bapak kalau gitu.”

“Mas.”

“Eh iya. Dua syarat saja Mas.”

Heh? Apa lagi ini?

“Yang pertama, aku tidak mau meramal tanggal kematian orang lain. Termasuk Mas sendiri.”

Baiklah. Secara pribadi, jujur bahwa aku juga tidak ingin tahu itu.

“Dan yang kedua…”

Dalam hati, barangkali aku sudah berteriak tak sabar. Tapi tak ada suara yang berhasil aku keluarkan.

“Tolong jangan terlalu ngotot berusaha mengubahnya Mas. Karena tidak semua hal di masa depan itu bisa kita ubah.”

“Oke.”

Apa? Hanya kata “oke” yang berhasil aku ucapkan sejak pikiranku kalut tadi? Aku pun mulai siap menyalahkan diri sendiri karena sikap pengecutku. Tidak sepantasnya aku minta diramal dengan usaha sampai sebegini kerasnya. Tapi buru-buru aku hapuskan niat itu, sebelum dia bisa membacanya.

“Baiklah Mas. Sudah siap ya?”

Dan aku pun menjalani 20 menit itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku mendengarkan dengan seksama apa yang dia katakan, seolah-olah itu semua adalah wahyu yang sudah aku nantikan sejak lama.

 

Dua puluh menit terpanjang dalam hidupku. Ia mengurai benang yang belum bisa kulihat dari tempat aku berdiri saat ini, tanpa ekspresi dan tanpa saran. Seolah ia ingin aku menjalaninya tanpa beban, menikmati yang masih bisa aku nikmati, dan tidak ingin aku memprotes apa yang masuk ke telingaku. Inilah yang aku takutkan. Sudah terjadi.

 

Pikiranku kembali ke Paman. Mungkinkah saat itu ia mengalami hal yang sama dengan yang kualami sekarang sehingga ia memutuskan demikian? Sempat aku ingin melangkah menuju jembatan tempat ia mengakhiri hidupnya dulu, tapi kuurungkan niatku.

Aku harus menyerang balik. Aku harus yakin ini hanya akal-akalan!

Satu jam kemudian, aku tiba di dinding belakang wahana tadi. Aku sengaja menunggu semua personel berkemas terlebih dahulu. Lalu aku melihatnya. Dia sedang melepaskan kostum ninjanya.

Aku setengah berlari menghampirinya dan menarik lengannya ke arah dinding belakang wahana labirin kaca.

“Wah ini Mas yang tadi? Mau apa Mas!? Jangan tarik-tarik, nanti saya teriak!”

Aku tak menghiraukannya karena tujuanku sudah dekat. Lalu aku melepaskan peganganku sambil beralih memeganginya dengan kedua tangan.

“Ada apa Mas? Tadi kan sudah kubilang jangan terlalu ngotot mengubahnya?”

“Aku mau kau meramal dirimu sendiri. Sekarang. Kau bisa?”

“Maksudmu apa Mas? Meramal diriku sendiri? Untuk apa?”

“Aku tahu kau cari uang di sini. Kau ingin dirimu terlihat hebat, kan? Supaya orang-orang datang hanya ke kamu? Lalu kau mengintimidasi dengan wanti-wanti jangan mengubahnya. Apa maumu? Sekarang aku ingin buktikan. Kau bisa meramal dirimu sendiri tidak. Dan apakah kau bisa mengubah masa depanmu sendiri!”

Kemudian diam menyelimuti jarak 50 cm di antara kami berdua.

“Kamu yakin minta aku melakukannya Mas?”

“Tentu saja. Tunggu apa lagi?” Aku sadar rautku tengah menunjukkan tampang menantang, seperti pegulat baru yang menantang juara dunia gulat.

“Baik. Tunggu.”

Ia menunduk selama hampir semenit. Lalu ia menatapku sambil berkata, “Aku akan bertemu wanita bernama Niandra. Lalu besok, di sini, aku akan dibunuh dari jarak dekat. Aku sempat melihat wajah pembunuhku, dan aku sempat mendengar ia mengucapkan maaf sebelum itu terjadi.”

Wajah pegulatku langsung luruh dan entah dengan topeng apa lagi aku bersanding di hadapannya saat ini. Aku yakin, seyakin-yakinnya. Dia akan mengubah nasibnya. Karena dia harus menyelamatkan nyawanya. Tapi… Bagaimana dengan aku?

“Tenang Mas. Aku tidak akan mengubahnya.”

Lalu dia berjalan ke arah pintu putar.

“Tunggu. Aku ingin buktikan.”

“Buktikan apa Mas? Mas pasti masih ingat apa yang aku ramal darimu.”

“Tentu.”

“Aku takut bahwa ternyata kaulah yang akan membunuhku besok.”

Aku baru tersadar. Hasil ramalan kami bersebelahan. Ia mengatakan bahwa besok, aku akan ada di tempat ini dan akan menancapkan pisau di suatu tempat. Lalu aku akan pergi sejauh-jauhnya serta mengubah namaku agar orang tak mengenaliku lagi, namun setelah itu hidupku tak akan pernah sama lagi. Sementara, baru saja ia mengungkap bahwa ia meramalkan dirinya akan dibunuh dari jarak dekat. Besok juga. Di sini juga.

“Sudah Mas, sudah malam.” Ia buru-buru pamit.

Sekarang, aku hanya ingin bukti Niandra dan bukti ia tidak mangkir besok. Jika ia memegang janjinya.

Aku membuntutinya terus tanpa ia menyadarinya. Ternyata, baru berjalan 200 meter, ia bertemu seorang anak kecil yang jatuh dari sepedanya. Ninja wanita ini membantu si anak mendirikan kembali sepedanya yang jatuh.

Aku bisa melihat dari jarak aku mengintip. Niandra.

 

Kekhawatiranku mencapai puncaknya. Malam ini aku ingin menyaksikan kebenaran ramalan sang ninja. Sungguh aku penasaran!

Aku menghindar dari pisau, sejak tadi pagi. Entah mengapa aku pun takut ramalan itu jadi kenyataan. Aku tak mungkin ingin hidupku berubah gara-gara membunuh orang yang baru kukenal. Betapa konyolnya.

Karnaval masih ramai juga, meskipun sudah hari ke-18. Aku menyibukkan diri dengan main di wahana bianglala dan lempar boneka. Namun pikiranku belum beranjak. Aku khawatir teramat sangat.

Aku mendengar teriakan dari belakangku. Persis.

Tubuh seseorang mendadak mampir ke punggungku dan mendorong dengan kuat, entah sengaja atau tidak, tapi aku tertarik gravitasi ke tanah seketika.

Lalu aku tersadar.

Dia berbaring di belakangku. Jarak dekat. Dibunuh. Pelakunya… Ternyata…

Aku langsung berlari. Aku takut. Wajah sang ninja yang meregang nyawa takkan hilang dalam bayangku, dalam waktu dekat. Ia tampak begitu kaget, namun tidak ada tanda perlawanan yang sempat ia lakukan. Ia menyerahkan dirinya kepada nasib, yang justru bisa dilihatnya sendiri terlebih dahulu.

Sontak pengunjung karnaval berlarian mengejar pria berkaos Beatles itu. Anehnya ia tidak melawan saat digelandang. Ia tak lagi memegang pisau, tapi tangannya penuh darah. Ternyata benar.

Aku sendiri malah sudah berlari ke jalan kecil sebelah bukit. Di sana aku tersadar sepenuhnya.

Tanganku penuh darah.

Dan aku memakai kaos Beatles.

 

Aku tersadar. Dan sejak itulah pemikiranku terhadap peramal berubah.

Aku tak akan melupakan perintahnya. Jangan terlalu memaksa untuk mengubahnya.

Ya, aku akan ingat.

 

(20140814)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s