Jangan Main-main (dengan Kelaminmu) (Djenar Maesa Ayu, 2004)

Identitas Buku

Judul buku: Jangan Main-main (dengan Kelaminmu)
Penulis: Djenar Maesa Ayu
Genre: Kumpulan cerpen, fiksi, sastra, dewasa
Ukuran: 14 x 21 cm
Tebal: 152 halaman
Terbit: November 2012 (edisi pertama: Januari 2004)
Cover: Softcover
ISBN: 978-979-22-8994-7

 

 

 

 

Sinopsis Official

Saya heran, selama lima tahun kami menjalin hubungan, tidak sekali pun terlintas di kepala saya tentang pernikahan. Tapi jika dikatakan hubungan kami ini hanya main-main, apalagi hanya sebatas hasrat seksual, dengan tegas saya akan menolak. Saya sangat tahu aturan main. Bagi pria semapan saya, hanya dibutuhkan beberapa jam untuk main-main, mulai main mata hingga main kelamin. Bayangkan! Berapa banyak main-main yang bisa saya lakukan dalam lima tahun?

INI TIDAK MAIN-MAIN!

Resensi

Melihat dari judulnya saja, sudah jelas apa tema yang ingin disampaikan Djenar Maesa Ayu dalam buku kumpulan cerpennya ini. Terbit pertama kali di tahun 2004 dengan segmentasi pembaca dewasa, buku yang berisi segerombolan cerita yang mengusung satu benang merah tema: Kekacauan moral karena berhadapan dengan urusan seks. Jangan Main-main (dengan Kelaminmu) telah menjadi salah satu ikon sastra wangi, yang mulai dipopulerkan di awal dekade 2000-an.

Hanya terdiri atas sebelas cerpen dan tidak lebih dari 160 halaman, buku ini bisa dibilang singkat. Cerpennya juga mudah dimengerti, hampir tak ada cerita yang memuat perumpamaan ruwet yang membuat pembaca perlu memutar otak untuk memahaminya. Barangkali di samping penyampaian yang lugas, tema seks yang dahulu biasa ditabukan tentu menjadi suatu daya tarik tersendiri buat para pembacanya. Coba saya ulas satu per satu.

Sang pembuka Jangan Main-Main. Belum apa-apa, gaya penulisan repetitif Djenar sudah menonjok kita: Betapa mungkin sesuatu menjadi sangat berbeda maknanya ketika kita melihat sesuatu itu dari sudut pandang yang berbeda! Mengenai mengapa cerita ini ditaruh paling depan, saya menduga otak kita sedang diajak “adaptasi”. Agar apa yang nanti kita baca itu harus disimak dengan membuka perasaan dan logika kita, bahwa apa yang kita lihat belum tentu sama dengan kenyataannya. Tapi uniknya, tema yang seragam kembali diintonasikan Djenar dalam cerpen kedelapan, Saya di Mata Sebagian Orang, yang mengambil sudut pandang pelaku seks bebas yang tertular HIV gara-gara aksi brutalnya dalam menjajakan tubuh.

Lalu Mandi Sabun Mandi. Cerita yang amat jelas menggambarkan perselingkuhan dan kebosanan pria paruh baya yang jemu beristrikan wanita seumurannya. Sangat menarik ketika sudut pandang benda mati diambil menjadi semacam saksi bisu yang berbicara tentang apa yang terjadi di sekitarnya. Soal benda mati dan urusannya sebagai saksi bisu, diulang pula oleh Djenar di cerita Penthouse 2601. Seolah benda mati bisa meringis kala menyaksikan adegan seks yang penuh latar belakang warna warni.

Lanjut ke Moral. Cerita paling sederhana dan sangat membumi. Melukiskan betapa manusia haus akan gengsi, sampai lupa sesuatu yang sangat penting, padahal mudah mendapatkannya dan murah pula; namun entah mengapa tetap saja manusia tidak mau! Menyusu Ayah, cerita yang paling banyak jadi buah bibir lantaran kevulgarannya sudah melewati ambang abnormal. Sangat kreatif dan menonjok (sekali lagi). Mengajak kita berpikir kembali kalau-kalau berkeinginan melakukan seks bebas dan mendidik anak soal seks. Cermin, cerita yang paling rumit menurut saya karena menggunakan perumpamaan dan perlu dihayati sebelum dipahami. Saya adalah Seorang Alkoholik, mengambil titik awal kurang wajar sehingga awal cerita terkesan kabur, namun alur mundur sangat cepat di akhir cukup menegaskan dengan jelas apa yang sebetulnya terjadi.

Lanjut ke Staccato, gambaran cepat singkat jelas tentang kehidupan pasangan muda dan apa yang terjadi ketika mereka flirting di pesta. Kembali, disampaikan dengan gaya unik yang patah-patah dan beralih amat cepat. Ting! menggambarkan bagaimana resah dan gelisahnya seorang wanita yang pernah menjual diri ketika dipandangi orang-orang se-lift, padahal sebetulnya saat itu dia (tampaknya) sudah bertobat. Cerita ini seolah memberi pesan: Masih mau main-main kelamin kalau sudah baca cerita testimonial ini? Dan terakhir Payudara Nai Nai, yang terus terang akhirnya agak garing, namun tetap menarik lantaran disajikan dengan cara penyampaian yang seolah “tidak takut digerebek pihak sekolah”.

Memang benar bahwa sejak era 2000-an, seks sepertinya bukan lagi hal yang harus ditabukan, melainkan harus dipandang dan disikapi dengan tepat agar tidak menimbulkan dampak yang tak diinginkan. Salah satu cara pendekatannya adalah lewat buku ini. Setelah membaca buku ini, dijamin kita akan berpikir ulang soal seks. Sudah benarkah pandangan kita selama ini soal seks? Apakah seks cuma urusan bawah-sama-bawah dan prokreasi semata? Tentunya tidak. Karena ada banyak sekali implikasi yang bisa terbawa kalau-kalau seks dipraktikkan dengan keliru. Dan, sudah jelas bahwa buku ini memberi banyak contoh gambaran kalau seks disikapi keliru.

Lalu soal kata-kata dalam buku ini yang begitu vulgar, tidak ditutupi sama sekali, dan jelas-jelas tanpa sensor. Tentu ada sebagian orang yang begitu ketatnya berpegang pada “Indonesia adalah negara timur” dan tidak menyukai fenomena sastra wangi ini. Saya tidak mau berkomentar soal itu. Tapi menurut saya sendiri, tidak ada urusannya antara buku ini dan budaya timur; karena pada kenyataannya apa yang disampaikan memang ada yang berbasis kenyataan. Dan di era globalisasi ini rasanya sudah sulit memisahkan garis timur dan barat ketika semua melebur jadi satu. Subtema lain yang mau diangkat, tampaknya adalah persoalan gender dan kaitannya dengan seks. Di hampir semua cerita dalam buku ini, wanita adalah korban yang dirugikan.

Bisa disimpulkan: Selain membuka mata kita tentang urusan seks, juga soal emansipasi. Recommended book, wajib untuk dinikmati, setidaknya untuk dibaca dan dijadikan pembuka mata.

 

My ratings

  • Story 6/10
  • Excitement 8/10
  • Readers grasp 8/10
  • Tagline association 8/10
  • Moral value 7/10
  • Personal Goodreads Rating 3/5
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s