Matematakut

Memang sulit.

Membahasakan sepuluh digit, dipadukan dengan beragam rambu, untuk menciptakan suatu gubahan numerik.
Melogika persambungan gasal genap, memperjelas kalimat bilangan hingga lengkap, membuktikan pola hingga terungkap.
Memang sulit.
Apalagi ketika penuturnya menuhankan diri.
Ketika penuturnya merasa kemampuan berbahasanya ini mengangkat harkatnya.
Ketika penuturnya bersedia menghunuskan pedang ketidaklulusan hanya karena ada yang tak lancar berbahasa selayaknya dia.

Bimbingan belajar menjamur.
Tapi bukan jamur merang, bukan jamur kuping. Berang hati melihat fakta. Kuping tak lagi mampu menahan gunjingan. Bahwa mereka menetapkan kasta, berdasarkan kemampuan itu.
Siapa yang piawai kastanya di atas. Dinyana akan sukses hidupnya jikalau fasih.
Siapa yang biasa saja kastanya di tengah.
Mungkin bisa lolos karena kurus saja.
Siapa yang lemah divonis akan gagal hidupnya.
Dicerca dan dicekoki kata gagal, antimotivasi kerap membara kanan kiri.
Slogan meyakinkan kian bergaung.
Nilai sempurna menanti.
Siapa yang tak tertarik?
Bukan karena ingin naikkan nilai semata, janganlah buru-buru menilai.
Tapi bisa lebih karena takut akan stigmata.
Bukan karena mengejar sepuluh besar. Tapi bisa lebih karena takut jadi sepuluh kecil.
Tahu sendiri bagaimana wajah pasangan itu ketika anaknya jadi sepuluh kecil.
Padahal, masukkan ke bimbingan belum tentu sanggup.
Bakat mungkin tak ada, tapi jelas niat jadi tak ada. Benci malah iya.
Memang sampai harus dicekik begitukah hingga ia demikian terbelakangnya?

Penguasa turut mencipta stigma.
Sekolah dengan rerata nilai tinggi di bidang ini pasti dicap bagus.
Sekolah yang tidak pastilah dianggap buruk.
Seolah bakat siswa satu-satunya yang berharga hanya dari urusan tuturan itu.
Lebih salah mana, siswa tak menguasai rumus persamaan kurva elips, atau siswa tak paham bagaimana cara bersikap menghadapi perbedaan pendapat di masyarakat?
Lebih salah mana, siswa tak bisa menyederhanakan rumus jadi lebih pendek, atau siswa tak bisa menyederhanakan permasalahan yang dihadapinya sehari-hari?
Lebih salah mana, siswa tak pintar berbahasa itu, atau siswa tak bisa menerapkan kepintarannya di sekolah menjadi kepiawaian di masyarakat?
Sebagian akan berdalih belajar bahasa numerik ini indah.
Barangkali sebagian akan setuju.
Berbahasa dengan sepuluh digit tentu lebih mudah daripada dua puluh enam atau bahkan lebih.
Tapi jangan lupa, bukan melulu soal sepuluh digit. Penanda, petunjuk, rambu, kian banyak malang melintang, sehingga dia tak lagi murni bahasa sepuluh digit.
Jangan lupa pula, tak semua siswa berkesempatan bertemu guru hebat.
Guru hebat pun, belum tentu semua klik.
Karena tak jarang, guru sengaja menjatuhkan di ulangan, demi dia dapat tambahan fulus di luar lapangan.

Mengapa pula perlu kerap salahkan ada anak yang berbeda.
Bisa jadi mereka lebih piawai dalam hal lain. Dalam bahasa lain. Dalam rangkaian lain. Dalam dunia keilmuan yang lain.
Dan jika ia divonis gagal hanya karena satu bahasa numerik, betapa tidak adilnya.
Belum lagi orang tua yang menuntut anak pintar bernumerik, padahal dulu mereka sendiri juga bodoh.
Tak pintar bahasa numerik belum tentu tak bisa bekerja.
Tak pintar bahasa numerik belum tentu masa depan suram.
Tak pintar bahasa numerik belum tentu tak bisa jadi orang.
Bisa jadi lima, sepuluh, lima belas tahun lagi, dia lebih sukses daripada guru numerikalnya dulu, guru yang memvonis pandir numerik stadium empat tanpa kemungkinan sembuh.
Memang sulit.

Ketidakadilan di sekolah, akan membunuh.
Cepat atau lambat.
Penguasa berstigma. Orang tua mencerca. Siswa merana.
Gajah berkelahi berebutan status lihai numerikal, pelanduk mati tak berdaya.
Salah siapa hingga dia jadi momok?
Barangkali subjek itu harus ganti nama.
Matematakut.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s