Timeline (Michael Crichton, 1999)

Identitas Buku

Judul buku: Timeline
Penulis: Michael Crichton
Genre: Fiksi, science-fiction
Ukuran
: 11 x 18 cm
Tebal: 662 halaman
Terbit: Januari 2000
Cover: Softcover
ISBN: 979-655-659-6

 

 

 

 

 

Sinopsis Official

Mesin Waktu teknologi paling mutakhir di ambang abad ke-21. Proyek rahasia ITC, sebuah perusahaan penelitian New Mexico, yang ingin membuat gebrakan di awal dekade ini.

Beberapa mahasiswa pasca sarjana terpaksa terlibat dalam proyek ini ketika profesor mereka terseret masuk ke dalam mesin waktu itu dan terdampar di Prancis zaman abad ke-14. Pada masa itu sedang terjadi perang pribadi antara Sir Oliver, seorang ksatria Inggris keturunan bangsawan, dengan Arnaut de Cervole, rahib pembelot yang dijuluki Imamn Tertinggi. Membebaskan sang profesor berarti ikut terjun ke kancah peperangan itu, dan ke dalam kehidupan keras abad ke-14 yang penuh dengan berbagai intrik. Dan para mahasiswa muda itu baru menyadari betapa bermanfaatnya apa-apa yang telah mereka pelajari selama ini untuk bertahan hidup di masa itu.

Resensi

Karena buku ini, almarhum Michael Crichton mungkin erat dikaitkan dengan anakronisme. Dengan kejanggalan kaitan teknologi dan sejarah. Dengan kekeliruan posisi masa dan kondisi. Namun, bagi saya Crichton adalah pesona tersendiri di kala ia memadukan teknologi dan fiksi jadi lembaran-lembaran kejutan yang tak ada habisnya. Barangkali, kita memang perlu menyingkirkan kegundahan ketika kita tahu bahwa anakronisme itu ada; demi menikmati suatu fiksi. Saya setuju.

Timeline (1999) adalah salah satu bukti pesona Crichton. Di kala milenium ini akan berakhir dan semua orang tengah asyiknya membayangkan menjadi manusia yang menginjakkan kaki di dua milenia berbeda; Crichton pun seolah mengikuti tren tersebut dengan menitikberatkan kisahnya pada satu aspek: Perjalanan menjelajahi waktu. Sejumlah arkeolog yang sehari-harinya berkutat dengan ilmu sejarah, pimpinan Edward Johnston; dipertemukan dengan Robert Doniger sang ahli fisika kuantum. Kisah selanjutnya berputar di antara tim arkeolog, perjuangan mereka menemukan petunjuk Johnston, hingga puncaknya ketika sejumlah arkeolog itu rela menjelajahi waktu hingga enam abad untuk mengungkap petunjuk tersebut. Kita pun diperkenalkan dengan tiga tokoh arkeolog yang berbeda karakteristik. Chris yang baik hati namun agak sial. Marek yang amat mencintai budaya abad pertengahan dan selalu ingin hidup di sana. Dan Kate yang amat pemberani dan nekat walaupun wanita.

Mungkin buat para pembenci fisika atau pembaca yang ogah berpusing terpadu dengan urusan kuantum, energi, muatan, dan berujung pada kaitan antara entitas dan dimensi ruang (termasuk waktu); sepertiga pertama buku ini akan sangat menguras tenaga dan menjemukan. Di sinilah tim arkeolog diceritakan tengah bertugas mengeksplorasi reruntuhan Castelgard dan La Roque sembari runutan kejadian yang mengarahkan mereka kepada sebuah mesin waktu, perlahan terungkap. Selanjutnya, jangan khawatir, cerita yang disuguhkan akan jauh lebih menarik. Di mana mereka hanya diperbolehkan ada di zaman berbeda selama periode tertentu. Di mana petunjuk justru kian sulit ditemukan saat mereka mulai diburu waktu. Di mana Marek galau memilih Lady Claire atau Kate dan Chris. Di mana mesin waktu tak dinyana menjadi penentu nasib akhir sang masterpiece dari dirinya sendiri. Namun satu hal yang pasti: Buku ini berakhir “bahagia”.

Sudah lama sekali membaca buku ini, entah sudah berapa tahun, yang pasti lebih dari 10 tahun yang lalu. Sudah juga menonton film adaptasinya, namun entah mengapa kurang suka. Tetap lebih menarik bukunya. Bayangan akan abad keempat belas, entah mengapa lebih nyata ketika membacanya, bukan ketika menontonnya. Namun, jika pembenci fisika itu dihadapkan pada pilihan nonton atau baca, sebaiknya pilih nonton saja. Karena di versi film, bagian kuantumisasi cerita memang sangat diminimalkan, dan bagian mesin waktu agak dibesar-besarkan; mengingat bagian inilah yang lebih menjual. Lumayan untuk mencegah kekantukan berkepanjangan bagi para warga bioskop. Taktik adaptasi yang bagus, dan mampu memikat saya pada awalnya. Tapi ketika ditanya pilih mana, jawaban saya tetap sama: Bukunya.

Meskipun memang banyak review ahli yang membuka kekeliruan Crichton dalam menempatkan ini dan itu dalam buku ini, saya setuju untuk mengabaikan itu semua dan mencoba lebih menikmati buku ini sebagai cerita fiksi yang dibalut teknologi, menyatukan aspek futuristik dan medieval dengan harmoni. Namun, sekali lagi pilihan dan selera, adalah di tangan audience.

My ratings

  • Story 8/10
  • Excitement 9/10
  • Readers grasp 8/10
  • Tagline association 7/10
  • Moral value 7/10
  • Personal Goodreads Rating 5/5
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s