MIskin selalu benar? Kaya selalu salah?

Bertanyalah. Sekarang.

Mengapa ketika ada yang bilang si pintar ini miskin, kau langsung memujinya?

Padahal, si pintar yang miskin itu hanya hidup dengan ibunya, yang notabene wanita malam (dan mengaku jadi buruh cuci, sesuai pekerjaannya di siang hari)?

Saat bertemu ibunya, tidak mungkin kau memujinya.

Mengapa ketika ada yang bilang si polisi ini hidup sederhana, kau langsung berasumsi dia lurus?

Padahal, bukan tak mungkin ia sedang pamer kesederhanaan supaya kelak dapat pembenaran?

Saat bertemu dia waktu bertugas, tidak mungkin kau memujinya.

Mengapa ketika ada berita tentang anak di sekolah elite, kau langsung memakinya, tanpa melihat dia pintar atau tidak?

Padahal, memang sekolah itulah yang paling dekat dengan rumahnya, dan keluarga anak itu punya kemampuan, baik secara finansial maupun akademik, untuk sekolah di sana.

Mengapa ketika ada berita tentang polisi, kau langsung menuduhnya mata duitan, tanpa melihat apapun yang mungkin terjadi di balik itu.

Pencitraan.

Semua orang butuh dia untuk hidup.

Apalagi di bumi kepulauan nan ajaib ini, di mana apa yang terjadi haruslah sama dengan yang terlihat.

Kamu pun pasti pernah pencitraan. Jangan munafik.

Kamu suka dia tapi tak terlalu suka ayahnya. Beranikah kamu memamerkan ketidaksukaanmu secara lugas ke beliau? Yakin kamu tidak berani. Sembilan puluh lima persen kamu bakal disuruh putus sama anaknya! Alih-alih kamu akan pasang muka manis di depan tampang sangarnya. Demi merebut hati calon mertua (itu pun kalau jadi). Pencitraan?

Kamu ingin diterima di suatu pekerjaan yang kamu idamkan tapi pewawancaramu sepertinya rese. Beranikah kamu menanyakan apa penyebab si pewawancara itu tidak menyukaimu, saat itu juga? Yakin kamu tidak berani. Seratus persen kamu ditolak jika kamu berani melakukannya, dan kamu harus mencari tempat lain. Alih-alih kamu akan berusaha menyenangkan si pewawancara itu. Demi merebut hatinya menempatkan kamu di posisi yang kamu incar. Pencitraan?

Kamu diajak kunjungan oleh bos. Klienmu begitu sengak melihat kamu yang masih muda. Beranikah kamu menantang balik si klien secara langsung umum bebas tak rahasia? Yakin kamu tidak berani. Bos bakal melayangkan surat peringatan empat lembar sekaligus ke mejamu sesegera mungkin. Alih-alih kamu akan mencoba menyenangkan bos, menyenangkan klien, padahal dalam hati kamu sangat-sangat benci harus melakukan ini. Pencitraan?

Bohong besar kalau kamu bilang tak butuh pencitraan.

Jangan munafik pula bahwa manusia gemar dengan efek pencitraan.

Mengapa bioskop demikian laku?

Mengapa buku cerita fiksi demikian laku?

Mengapa drama sekolah begitu disukai para siswa?

Mengapa nama julukan begitu digemari dalam pergaulan?

Apa yang manusia coba karang, coba tampilkan, coba reka, di hadapan apa yang sebetulnya terjadi; biasanya jadi ajang menghibur manusia lainnya.

Bahkan piala insan bioskop itu, namanya juga Citra.

Jadi, ngawur kalau kamu bilang manusia tak butuh dan tak suka pencitraan.

Kaitan antara pencitraan dan kemiskinan. Ada seorang tokoh yang dicap gemar pencitraan. Apa yang dia citrakan adalah kesederhanaan. Tampaknya dia begitu supaya dekat dengan rakyat. Setelah itu, semua berlomba-lomba PURA-PURA hidup sederhana supaya terlihat keren.

Berangkat naik busway bangga. Pamer di status. Padahal jelas-jelas naik ojek lebih cepat sampai daripada memaksakan diri naik busway. Setelah itu terlambat. Siapa juga yang peduli.

Makan di warteg bangga. Pamer foto makanannya di Instagram. Padahal setelah itu muntaber. Siapa juga yang peduli.

Naik sepeda motor bangga. Grasak grusuk sana sini seolah jadi pemilik dan penguasa jalanan. Dia tabrak mobil mobilnya yang salah.

Pergi ke pelosok bangga. Pamer di Foursquare. Padahal cuma kebetulan lewat di desa, ketika hendak menuju tempat wisata di luar kota. Semua orang disuruh peduli, padahal niat aslinya belum tentu.

Mental kita telah lekat bahwa miskin itu benar, kaya itu salah.

Miskin itu baik hati, kaya itu tak punya hati.

Miskin itu pangkal bahagia, kaya itu pangkal mudarat.

Miskin itu patut dikasihani, kaya itu patut dibenci.

Padahal…

Tak sedikit yang miskin rela tetap miskin demi bisa dipandang benar, baik hati, pangkal bahagia. Bisa kaya tapi tidak mau. Takut jadi kaya lantas nanti dipandang jahat.

Tak sedikit yang miskin mentalnya tetap busuk dan kian gemar mengemis, memanfaatkan stigma patut dikasihani. Toh semua yang miskin kan dipandang baik dan benar.

Tak sedikit yang miskin malah gemar memoroti yang kaya, memeras sang kaya dengan kedok porsi si miskin dalam kekayaan si kaya.

Sebaliknya…

Tak sedikit yang kaya rela menyumbang banyak untuk mencoba membantu membahagiakan yang miskin. Tapi si miskinnya tak tahu berterima kasih dan memilih-milih bantuan yang mereka mau.

Tak sedikit yang kaya yang tak sombong mau berbagi dengan si miskin. Tapi si miskinnya malah tak mau karena takut disangka lintah oleh kaumnya.

Tak sedikit yang kaya namun berpikir menggunakan kekayaannya untuk tujuan sosial. Tapi si miskinnya malah menuduh dia tengah menjalankan misi terselubung demi konspirasi busuk yang sangat besar kuasanya.

Kita telah terlalu banyak dicekoki mental sinetron.

Miskin itu benar, kaya itu salah.

Terimplementasi jadi mobil selalu salah, sepeda motor selalu benar.

Terimplementasi jadi kedai kaki lima selalu lurus, restoran selalu pakai air kotor.

Terimplementasi jadi atasan selalu zalim, bawahan selalu terzalimi.

Sinetron telah menjadi jiwa bangsa.

Dengan salahnya.

Mereka telah lama pergi, tapi hal buruk yang mereka tinggalkan di sini telah mengakar.

Mereka sendiri telah meninggalkan budaya buruk itu, tapi kita malah dengan bangga terus mempraktikkannya.

Mereka tertawa dalam hati menyaksikan ketololan kita.

Kita selalu berpikir mereka jahat.

Padahal barangkali kitalah yang terlalu bodoh untuk tidak meninggalkan budaya jahat itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s