Cloud Atlas (2012)

Identitas Film

Censor rating: R
Duration: 172 minutes
Genre: Drama, Science Fiction
Release date: October 26, 2012
IMDb rating: 7.5/10
Metacritic score: 55%
Rotten Tomatoes tomatometer: 66%
Directors: Tom Twyker, Andy Wachowski, Lana Wachowski
Casts: Tom Hanks, Halle Berry, Hugh Grant, Jim Broadbent, Hugo Weaving, Jim Sturgees, Ben Whishaw, Doona Bae

Sinopsis Official

An exploration of how the actions of individual lives impact one another in the past, present and future, as one soul is shaped from a killer into a hero, and an act of kindness ripples across centuries to inspire a revolution.

 

Resensi

Pernah mendengar contoh-contoh buku fiksi yang konon tak bisa difilmkan saking ribetnya? Salah satu dari buku-buku fiksi luar biasa itu adalah Cloud Atlas, yang ditulis oleh David Mitchell dan dirilis tahun 2004. Tinjauan para pengamat sepakat: Upaya mengonversi Cloud Atlas menjadi bentuk film bisa jadi memakan biaya sangat besar, atau butuh teknik sangat luar biasa. Mengapa begitu?

Bayangkan saja sebuah buku fiksi yang berisi enam cerita dari enam era yang berbeda, namun keenamnya saling berkaitan satu sama lain, dan satu kejadian di satu era mendorong terjadinya sesuatu yang berbeda di era lainnya. Kemudian, ada era ketujuh di mana seseorang menceritakan enam era tersebut, ke-saling-terkait-annya, dan bagaimana filosofi di dalamnya. Membayangkannya saja sudah membuat kita berpikir “luar biasa”, belum lagi bagaimana upaya mewujudkannya jadi film? Tak heranlah bahwa ketika ada yang bisa memfilmkannya, film hasil kolaborasi tiga sutradara ini pun menjadi salah satu film dengan biaya produksi termahal dalam sejarah. Butuh waktu lebih dari 3 tahun untuk mewujudkan film ini. Dengan suguhan aktor-aktris ternama plus beberapa bintang muda, film ini pun sudah selayaknya ditunggu, di era 2012 lalu.

Sedari awal film, kita sudah disuguhi plot yang saling berikatan namun membingungkan. Ditambah fakta bahwa film ini memiliki durasi yang termasuk agak-super, yaitu 172 menit (2 jam 52 menit). Lengkaplah sudah. Sudah ruwet, panjang lagi. Benar-benar film yang “membawa penderitaan, bukannya hiburan”. Jelaslah sudah bahwa menonton film ini butuh perhatian dan effort lebih; alias tidak boleh ada pengganggu atau ada jeda, plus perlu atensi dan memori jangka pendek ekstra, karena kita bisa langsung kebingungan begitu kita mengalihkan perhatian dari film ini, atau begitu ada detail yang terlupakan. Jangankan, bahkan kerap kali penonton perlu menonton lebih dari sekali untuk memahami tiap plot dengan baik. Meskipun demikian, satu nilai yang jelas dibawa oleh film ini adalah bahwa terkadang apa yang kita lakukan di kehidupan kali ini akan membawa pengaruh besar bagi orang lain, tanpa kita sadari, ataupun bahkan tanpa bisa kita ketahui karena kita sudah keburu tiada di saat itu. Konsep yang dibawa memang sudah rada menjurus metafisika, alias di luar nalar manusia namun bisa dirasakan. Kita pun mungkin tidak mengetahui keterkaitan itu lantaran tak satupun orang dari suatu era bisa hidup sampai sedemikian lama, hingga era berikut yang dimaksudkan itu tiba. Seolah plot film ini ingin membawa kita memahami makna kehidupan seseorang bagi kehidupan secara global, dari sudut pandang yang unik. Dan anehnya lagi, keunikan ini membuat orang-orang yang menyukai film ini cenderung menontonnya ulang, tanpa terganggu rasa bosan atau sensasi “ah, ini lagi“. Dan yang terpenting lagi, David Mitchell sendiri menyukai adaptasi dari bukunya.

Cerita berawal dari kisah pengacara Adam Ewing di kepulauan Pasifik, 1849, yang kekayaannya ternyata diincar orang kepercayaannya; kemudian berlanjut ke kisah seniman penyuka sesama jenis Robert Frobisher di Inggris, 1936, yang hidup seolah hanya demi menyelesaikan tugas amanuensis-nya dengan seniman gaek Vyvyan Ayrs; era wartawati Luisa Rey di San Francisco, 1973, dalam misi rahasianya; kisah si penerbit Tim Cavendish di London, 2012, dengan kemabukannya; Neo-Seoul dan kota modernnya, 2144, yang memperlihatkan sisi statis dari modernisasi; dan ditutup dengan Hawaii (Big Isle) 106 musim dingin setelah The Fall (tahun Masehi tidak disebutkan), yang tengah menyambut peperangan.

Siapa yang menyangka ternyata “perbuatan” Adam Ewing bisa berimplikasi pada kreativitas Robert Frobisher, dan seterusnya (kalau dibuka tentunya jadi spoiler!), menjadi semacam circular path of fate. Dan memang harus kita akui, penyampaian enam plot yang demikian rumit dalam 172 menit terkesan “penuh sesak”, sehingga kesan “tak bisa difilmkan” memang kerap membayangi. Namun ketika film berakhir di era ketujuh, ada rasa kehilangan yang seolah-olah membuat kita merasa kecewa di akhir dari tiga jam yang seru ini.

Terlepas dari keberhasilan para sutradara dalam mengangkat buku fiksi rumit ini menjadi film hingga mendapat standing ovation di festival film Toronto 2012, film ini pun ternyata tidak lepas dari kritikan. Terutama bagaimana mereka menggambarkan Neo-Seoul, memang sempat dikritik dan dianggap rasialis terhadap bangsa Asia Timur (fokusnya adalah: Coba lihat bagaimana mereka mendandani karakter Jim Sturgess dan Hugh Grant di era Neo-Seoul). Mungkin, untuk aspek yang satu ini memang tergantung dari persepsi masing-masing orang.

Bagi penggemar science fiction atau penggemar film-film rumit, rasanya Cloud Atlas bisa jadi rekomendasi yang menarik. Singkirkan semua pengganggu ketika ingin mencoba menikmatinya, setidaknya dalam 3 jam ke depan. Namun jika sedang stres atau butuh film penghibur yang ringan-ringan saja, film ini amat sangat tidak direkomendasikan. Mati bosan dalam kondisi kebingungan bisa jadi ending yang sungguh mengerikan. Bukan buat filmnya. Tapi buat yang menonton.

My Ratings

  • Story 8/10
  • Graphic 8/10
  • Audience grasp 8/10
  • Tagline association 8/10
  • Moral value 8/10
  • Personal IMDb rating 8/10
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s