Antara Tiket Pesawat yang Murah dan Komponen di Baliknya

Baru-baru ini pemerintah kita membuat kebijakan kontroversial soal harga tiket pesawat minimum, yang tentunya membuat sebagian besar pemburu tiket murah berduka sekaligus mencak-mencak. Namun bukan soal keputusan Pak Menteri yang mau saya bahas. Melainkan tentang penyebab tiket itu bisa murah atau mengapa pula tiket tertentu bisa mahal. Mungkin, secara tidak langsung bisa dilihat juga sekalian, apakah sekiranya keputusan Pak Menteri itu berdasar atau tidak. Tapi sekali lagi saya tidak mau membahas politik-politikan kali ini.

Supaya objektif maka sumber yang saya ambil semuanya bertanggal sebelum 28 Desember 2014.

Readers Digest pernah membuat artikel tentang penyebab mahalnya tiket pesawat yang kita pesan. Sayangnya tidak ada tanggal tercantum di artikel ini, padahal jelas sudah lama artikelnya. Di sini dibahas bahwa membeli tiket pesawat di akhir pekan dan high season (musim liburan), penerbangan di prime time (siang menuju sore hari), sibuk mengejar frequent flyer, melupakan harga kursi dan harga bagasi ekstra, serta kebiasaan berburu tiket online di malam hari adalah segelintir penyebab membengkaknya harga tiket yang kita beli. Dari sini kita bisa melihat bahwa meskipun rutenya sama, harga tiket bisa berbeda antara penerbangan pagi dan sore. Bisa berbeda antara hari Rabu dan Sabtu. Bisa berbeda pula antara rute menuju dan rute pulang. Karena apa? Karena ketika suatu kota menjadi destinasi utama di saat-saat dan jam-jam tertentu, maka di situlah maskapai akan bertaktik dengan menaikkan harga tiket pesawat yang mereka jual.

Mungkin dari sini kita pun berkesimpulan, bagaimana cara mendapatkan tiket murah. Yaitu carilah tiket low season (dengan komitmen rela berlibur di saat orang lain tidak berlibur, dan tidak liburan di saat orang lain lagi seru-serunya liburan), beli tiket di siang hari, jangan di akhir pekan, dan sebagainya… Tapi, coba kita pikirkan kembali apakah memang hanya itu yang berpengaruh ke harga tiket? Kalau begitu, mengapa harga tiket pesawat full service bisa berbeda dengan harga tiket pesawat budget airlines?

Lalu, dari sebuah artikel bertanggal Juli 2012, ternyata AirAsia pernah mengemukakan rahasia mereka sukses menjajakan tiket murah. Ingat, Juli 2012, tentunya sebelum musibah QZ8501. Berikut ringkasannya (beberapa poin yang mirip-mirip sudah saya gabungkan, supaya lebih ringkas).

  1. Menggunakan pesawat sesering mungkin (kalau bisa diarahkan ke rute pendek), dengan jam terbang di udara per hari yang lebih banyak dan jam turnaround time (waktu pesawat berbalik di darat sebelum siap terbang lagi) yang lebih pendek daripada maskapai full service.
  2. Tujuan semata-mata mengangkut penumpang. Tidak ada biaya tetek bengek mulai dari pilih kursi, bawa bagasi, pencetakan tiket, frequent flyer service, uang retur tiket, surat kabar di dalam pesawat, layanan lounge airport, layanan fasilitas di bandara, dan makan minum di dalam pesawat.
  3. Tidak ada beda kelas dan tipe pesawat. Pilot, pramugari, dan teknisi semua dilatih untuk satu tipe pesawat saja (jadi menghemat biaya training).

Dan bisa dicek di tautan yang saya pasang di referensi, bahwa poin-poin itu dilansir sendiri oleh AirAsia (jadi jelas bukan saya yang mengada-ada).

Tentunya, jika kita hanya mendengar “resep murah” itu dari AirAsia, kita akan penasaran dengan maskapai budget lainnya di luar negeri, seperti Ryanair, Easyjet, AerLingus, Vueling, dll itu; apakah memang mereka semua (termasuk AirAsia) beroperasi dengan cara yang sama?

Infographic yang saya tampilkan berikut ini mencoba menjelaskan bagaimana perbandingan apple-to-apple antara maskapai budget dan maskapai full service. Kita bisa lihat mulai dari harga, bahwa Ryanair punya tiket yang harganya cuma seperdelapan British Airways (salah satu maskapai full service) dengan rute yang sama. Kok bisa begitu? Ini dia alasan-alasannya.

  1. Kapasitas pesawat dibuat lebih padat merapat (tak heran pesawatnya berasa sempit dan terkesan desak-desakan). Buat orang Asia yang badannya relatif kecil tentu tidak masalah. Namun buat orang barat tentu ini berpotensi sangat mengganggu karena ukuran tubuh mereka yang lebih besar.
  2. Turnaround time yang dipangkas jauh lebih pendek daripada maskapai full service.
  3. Tidak mengenal transit, langsung ke tujuan saja.
  4. Armada dan landasan yang dipakai di bandara pun khusus, biasanya yang sederhana dan berukuran kecil.
  5. Umumnya tiket dijual lewat internet.
  6. Tidak ada makanan dalam pesawat, tidak diizinkan bawa bagasi tambahan, dan berbagai larangan lainnya (yang kalau dilanggar = bayar).
  7. Pesawat yang dipakai hanya terdiri atas satu tipe. Biaya rawat dan training murah.
  8. Variasi proporsi gaji karyawan lebih lebar.
  9. Jumlah penumpang per karyawan maskapai bisa mencapai ribuan (bahkan Ryanair hampir 10.000 penumpang per karyawan), sementara maskapai full-service, seribu saja tidak ada.

Lalu, bagaimanakah dampak penghematan yang dilakukan maskapai budget itu terhadap total keuntungan mereka? Bisa dilihat juga di infographic bagian bawah. Ternyata, keuntungan terbesar disumbangkan oleh densitas kursi di pesawat yang padat merapat itu. Faktor lain yang tak kalah pentingnya yaitu biaya stasiun di bandara yang lebih murah, tidak adanya makanan dalam pesawat, tidak adanya komisi untuk agen tiket. Faktor yang ditakutkan sejuta umat, yaitu penghematan karena pemotongan biaya maintenance, ternyata sudah termasuk dalam cakupan faktor “higher aircraft utilization“. Dan jika maskapai budget itu mencoba meraup keuntungan dengan menekan biaya maintenance, faktor ini ternyata hanya berkontribusi kecil terhadap keuntungan maskapai budget; ketimbang jika mereka mencoba memadatkan isi pesawat hingga penumpangnya (ekstrimnya) mau selonjoran saja tidak bisa.

Masih penasaran juga soal variasi harga tiket? Saya ambil lagi satu referensi tambahan, Darjeelin. Di sini mereka mengungkap bahwa sebetulnya sulit menjelaskan mengapa tiket bisa dihargai sedemikian rupa, karena memang tiket pesawat punya banyak sub-elemen yang perlu dianalisis satu per satu. Di sinilah justru para maskapai berlomba-lomba memanfaatkan fluktuasi yang ada dengan memasang tiket-tiket promo di posisi tak terduga. Namun hal ini pun masih bergantung pada variabel internal tiap maskapai, yaitu kebijakan komersial dari masing-masing maskapai.

Mungkin masih penasaran dengan sumber lain? Terakhir, dari HowStuffWorks. Mungkin artikel ini pun hanya kompilasi, namun ada baiknya dipertimbangkan juga.

  1. Maskapai ini biasanya memesan bahan bakar di muka untuk setahun ke depan. Dengan asumsi harga minyak akan semakin naik, maka maskapai budget akan mendapatkan keuntungan berlipat ganda dari inflasi.
  2. Hanya gunakan satu tipe pesawat, tidak lebih. Jadi, semua pesawat yang kena gangguan akan direparasi dengan suku cadang yang setipe dan para teknisi tidak perlu pusing mencari suku cadang untuk tipe pesawat yang berbeda.
  3. Mencari lokasi di bandara yang khusus untuk maskapai budget.
  4. Tidak ada kursi kelas bisnis.
  5. Jumlah pramugari per penerbangan tidak sebanyak penerbangan di maskapai full service.
  6. Tidak ada makanan dan minuman di pesawat.

Jadi, kira-kira poin yang disampaikan pun senada dengan artikel-artikel sebelumnya yang sudah dibahas.

Namun uniknya, artikel ini menegaskan pula bahwa apabila maskapainya fair dan masih berpegang pada prinsip penerbangan yang baik, seharusnya maskapai budget dan maskapai fullservice punya derajat keamanan setara. Penulis artikel ini yaitu Ed Grabianowski menyebutkan lagi, bahwa “kecelakaan pesawat memang bisa terjadi, tapi maskapai budget tidak lebih rentan mengalami kecelakaan daripada maskapai full service“. Mungkin, ini hanya pendapat sang pengamat (yang merupakan seorang wartawan surat kabar di New York). Sayangnya, karena kecelakaan pesawat tergolong jarang terjadi (meskipun sekalinya terjadi memang eksposnya selalu luar biasa, sehingga terkesan sering, padahal sebetulnya jarang), kebenaran pendapat ini sulit dibuktikan, namun juga sebaliknya, sulit dibantah.

Jadi, sejauh ini saya tidak memberikan komentar apapun soal kebijakan baru dari Menteri Perhubungan kita soal tiket pesawat supermurah. Namun, kiranya bisa ditelaah sendiri dari uraian yang saya buatkan kompilasinya di atas, kira-kira keputusan beliau itu tepat atau tidak.

P.S. Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap siapapun sehubungan dengan artikel ini, saya menyampaikan turut berduka atas korban bencana QZ8501.

Referensi:

  1. [Reader’s Digest]. Yang membuat tiket pesawat Anda mahal. URL: http://www.readersdigest.co.id/travel/traveler/yang.membuat.tiket.pesawat.anda.mahal/006/002/111
  2. [merdeka.com] Rahasia AirAsia jual tiket penerbangan murah. Updated 2012 Jul 3. URL: http://www.merdeka.com/uang/rahasia-airasia-jual-tiket-penerbangan-murah.html
  3. How can low-cost airlines be so cheap. Updated 2012 Dec 27. URL: http://tipsoftravelling.com/2012/12/27/how-can-low-cost-airlines-be-so-cheap/
  4. Memahami variasi harga tiket pesawat untuk terbang dengan murah. URL: https://www.darjeelin.co.id/perjalanan/memahami-variasi-harga-tiket-pesawat-untuk-terbang-dengan-murah.php
  5. Grabianowski E [How Stuff Works]. How budget airlines work. Updated 2009 Mar 12. URL: http://money.howstuffworks.com/personal-finance/budgeting/budget-airline1.htm
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s