Nama pena: Apalah artinya?

Apa sih artinya sebuah nama. Kalau saya tetaplah saya namun menggunakan nama yang berbeda, harusnya sih, dengan teori tersebut, hasil akhirnya akan tetap sama. Hasil baik tetap baik, hasil jelek tetap jelek.

Tapi kenyataannya sering tidak sesuai. Nama sering menjadi kesan pertama seseorang, di samping tampilan fisik. Di kala seseorang tak bisa kita lihat langsung, atau di kala yang kita lihat terlebih dahulu adalah apa yang dihasilkan seseorang, maka mau tak mau kita akan bertanya siapa namanya.

Beberapa nama akan terkesan kampungan sementara nama lain dicap nama pasaran. Beberapa nama membuat orang mengernyitkan dahi karena sulit dilafalkan, beberapa nama lain lagi terdengar enak tapi maknanya tak seindah namanya. Beberapa nama terdengar sesuai dengan karyanya, ada pula nama yang dianggap tak sejurusan dengan apa yang dilakukan oleh pemiliknya.

Padahal kita tahu bahwa kita tak bisa memilih nama buat diri kita sendiri. Kita bahkan tak bisa memilih siapa orang tua kita, seberapa luas pengetahuan mereka tentang nama bayi, dan nama apa yang terlintas di otak mereka ketika mereka harus memberi nama kepada kita. Begitu kita mulai sadar dengan proses belajar kita, tahu-tahu kita sudah punya nama. Suka tidak suka kita harus mau pakai nama itu. Apalagi ketika kita sudah mulai sekolah dan perlahan-lahan kita tahu apa artinya nama kita. Syukur-syukur nama kita artinya bagus. Kalau nama kita ternyata artinya organ kemaluan, atau ternyata nama tumbuhan parasit, atau yang lebih parah lagi nama kita sama dengan nama penjahat atau koruptor ternama? Lantas kita harus bagaimana? Mau ganti nama susah, orang tua belum tentu mengizinkan (kan kata pepatah, nama kita adalah doa orang tua. Mana mungkin orang tua kita mau doanya dilangkahi sama kita yang tak paham apa-apa ketika didoakan saat itu?)

Berdasarkan situasi dan kondisi seperti itulah sebagian orang memilih untuk melawan nasibnya. Membuat nama samaran. Istilah spesifiknya ada juga sih, tapi ya tergantung bidang kerjaan si orang yang pakai nama samaran. Misalnya dia penulis, ya istilah kerennya jadi “nama pena”. Kalau dia aktor, ya istilah kerennya “nama panggung”.

Tapi ada juga orang yang nama lahirnya sudah bagus namun tetap ingin pakai nama lain ketika menulis atau melakukan hal-hal lain. Alasannya sudah pasti bukan nama yang terkesan ndeso atau kurang sesuai. Di luar nama yang dirasa salah ketika lahir, beberapa alasan berikut bisa jadi alasan kita untuk membuat nama samaran.

1. Memisahkan dunia pekerjaan satu vs pekerjaan dua, atau pekerjaan vs hobi
Coba bayangkan kita jadi pekerja kantoran, lalu kita punya hobi mengarang cerita erotis. Mana beranilah kita menggunakan nama asli untuk dicantumkan sebagai pengarang cerita erotis tersebut. Atau bayangkan kalau aslinya kita ini konsultan terkenal yang disegani, tapi ternyata punya hobi melawak. Tidak lucu juga kita menggunakan nama profesional sebagai nama panggung ketika mengocok perut hadirin.

2. Menyesuaikan diri dengan nuansa karya 
Misalkan nama kita terdengar seperti nama bangsawan namun kita ingin menulis sesuatu tentang Nazi, tentu akan sangat aneh kalau tidak pakai nama samaran. Aneh di kalangan bangsawannya, dan aneh pula di kalangan pembaca. Jadi memang wajar ada beberapa orang yang memilih menggunakan nama beken berbeda demi mengejar segmentasi pasar yang tepat sesuai dengan karya-karyanya.

3. Ingin hidden, hindari stalking
Zaman sekarang informasi apa saja bisa ditemukan di internet kalau pemiliknya bersedia membagikannya. Nama keluarga, nama kedua orang tua, alamat lengkap, data pekerjaan, nomor telepon, bahkan status sosial dan ukuran pakaian dalam seseorang, semua bisa ditemukan selama data itu pernah dimuat di internet oleh si pemiliknya. Barangkali hal ini bisa mengganggu privasi seseorang yang terlambat menyadarinya. Dan ketika orang tersebut ingin menghasilkan sesuatu yang berbeda, dan tidak mau dirunut lalu ketahuan khalayak ramai, alias ingin hidden, maka wajarlah jika dia memilih menggunakan nama berbeda.
Lalu bagaimana memilih nama yang pas? Sebetulnya tidak ada panduan khusus tentang hal ini, namun beberapa komunitas penulis mencoba mengumpulkan beberapa syarat yang umum.
1. Namanya jangan susah-susah atau panjang-panjang. Supaya gampang diingat. Baik oleh diri sendiri maupun pembaca. Atau bahkan oleh editor.
2. Nama itu sebaiknya disesuaikan dengan tipe karya atau sesuatu yang mau “dijual”.
3. Namanya jangan mengandung unsur provokatif, mengandung nama orang provokatif, ataupun bernada provokatif.
4. Ada baiknya konsisten dengan nama yang sudah dipilih, kecuali jika terjadi sesuatu yang mengharuskan ganti nama (lagi). Salah satu manfaatnya adalah mudah diingat dan sudah terasosiasi dengan baik di kalangan hadirin.
Memang benar nama terkadang tidak ada artinya, tetapi kesan pertama karena nama bisa berdampak besar.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s