Calon Penjahat yang Sempurna: Jika Sidik Jari Sulit Dideteksi

Kita semua pasti pernah nonton film detektif. Di film detektif, istilah sidik jari bisa dibilang paling sering muncul. Di film-film tersebut sidik jari nyaris selalu dianggap sebagai identitas keramat lantaran konon sidik jari seseorang adalah unik. Artinya sidik jari saya dan sidik jari kalian sudah pasti berbeda. Memang itu fakta. Jadi ceritanya, ada beberapa titik yang dinilai di sidik jari manusia, dan kalau dihitung secara matematika, peluang ada dua orang dengan sidik jari yang sama ternyata lebih kecil daripada jumlah manusia di muka bumi (lupa rumusnya dan bagaimana cara menghitungnya). Alhasil disimpulkanlah bahwa sidik jari manusia itu unik, tidak ada yang sama antara satu orang dengan orang lainnya (termasuk saudara kembar sekalipun). Namun anehnya, terkadang sidik jari bisa berubah; misalkan pada orang yang mengalami luka berat di bagian jari.

Tapi bukan keunikan sidik jari yang mau saya bahas. Melainkan kaitan pemanfaatan sidik jari dalam kehidupan manusia dengan sesuatu.

Tentunya pemanfaatan pertama yang kita semua sudah tahu, adalah di bidang kepolisian dan detektif-detektifan. Di negara maju aparat berwajibnya punya sistem basis data berisi kumpulan sidik jari manusia dan siapa pemiliknya (mudah-mudahan Indonesia mungkin akan menyusul dengan e-KTP-nya). Sehingga kalau ada kejahatan, polisi tinggal melakukan olah TKP (tempat kejadian perhuruharaan), mengumpulkan barang bukti, mencari jejak sidik jari di TKP, dan mencocokkan sidik jari yang ditemukan dengan sistem basis data yang ada. Lalu ketahuan deh siapa penjahatnya, dan segeralah dia dijadikan buron (seperti kisah yang biasa kita lihat di televisi). Tapi kita tentu juga tahu bahwa penjahat-penjahat masa kini sudah lebih pintar dan mereka cenderung beraksi dengan menggunakan sarung tangan, sehingga tidak ada jejak sidik jari di TKP yang bisa dikenali polisi (tidak berlaku kalau mereka lagi panik, atau jika penulis skenarionya sengaja).

Belakangan ini sidik jari semakin banyak dimanfaatkan untuk hal-hal lain di luar urusan penjahat-penjahatan. Memang sih, tidak jauh-jauh dari identitas juga ujung-ujungnya. Biasanya, alat yang menggunakan sidik jari sebagai pengenal itu menggunakan sistem sensor untuk membuka kunci. Kuncinya bisa kunci apa saja: mulai dari ponsel, rumah, atau mesin absensi di institusi formal. Penanda masuk kerja atau tidak, pakai sidik jari. Penanda ini pemilik ponsel atau bukan, pakai sidik jari juga. Bahkan terkadang untuk masuk apartemen atau masuk rumah tertentu pun, harus pakai sidik jari. Ada lagi yang lebih unik: Nasib manusia ditentukan dari pola sidik jarinya. Bakat anak kecil ditentukan dari pola sidik jarinya. Konon kata ilmuwan metafisika yang dasar ilmunya kurang bisa saya pahami itu, pola sidik jari menyimpan nasib manusia dan karir apa yang bisa ia jalani. Ada-ada saja, entah benar atau tidak?

Kalau dunia sudah telanjur jadi begini, maka yang bakal menderita ada 2 tipe manusia. Tipe pertama adalah penjahat. Karena ke manapun mereka pergi bakal ketahuan, termasuk ketika mereka masuk kantor (entah bagaimana prosedurnya, tetapi betapa tidak lucunya kalau tiba-tiba polisi menggerebek satu kantor gara-gara sidik jari di TKP ternyata cocok dengan salah satu karyawan, apa barangkali mereka bisa memeriksanya di sistem basis data absensi kantor? Sekali lagi, entah). Dan tipe kedua adalah orang yang sidik jarinya hidup segan mati tak mau, karena ditempel ke manapun sidik jarinya tidak berbekas, atau justru bekasnya bergumpal-gumpal sehingga tidak bisa dikenali sistem sebagai metode identifikasi (baca: Sidik jarinya gak guna). Mereka-mereka yang malang ini punya ciri khas: Cenderung punya telapak tangan berminyak atau sering basah (hiperhidrosis), atau ujung-ujung jarinya kerap ada kapalan kecil-kecil (entah apa istilah kedokterannya). Lalu menyoal bakat dan sidik jari, jika benar ada kaitannya, berarti benar mereka inilah calon penjahat yang sempurna.

Mungkin ada beberapa trik yang bisa dicoba dilakukan oleh si calon penjahat sempurna ini ketika harus berhadapan dengan mesin pendeteksi sidik jari dalam suatu saat di kehidupannya yang singkat. Kalau berhasil ya syukur. Kalau gagal ya derita lu. Tapi coba saja daripada berdiam diri.

1. Menurunkan sensitivitas alat sensor
Tapi rasa-rasanya tidak semua alat sensor sidik jari punya level sensor (sensitif vs tidak sensitif). Kalau mesinnya kebetulan sudah bapuk, mau tidak mau cara ini tidak layak dicoba.
2. Menggabungkan metode identifikasi dengan unsur identitas lainnya
Ini cukup lazim. Misalkan mesin absensi kantor tidak mau membaca sidik jari seseorang, biasanya mereka bakalan disuruh menekan beberapa tombol untuk memasukkan nomor induk atau memasukkan password yang sudah ditentukan kantor, maka otomatis mesin tersebut seolah-olah bisa membaca sidik jari orang tersebut (ini analoginya seperti saat kita disuruh memperlihatkan KTP, tapi yang kita perlihatkan malah SIM atau paspor).
3. Hindari pemakaian lotion dan hindari menaburkan bedak di telapak tangan
Lotion atau hand body sering menjadi biang keladi sulitnya mesin membaca sidik jari manusia, terutama yang jenis kelaminnya dilambangkan dengan tanda tambah ke arah selatan. Oleh karena itu, sebaiknya benda-benda itu baru dipakai setelah kita melewati mesin sidik jari. Orang yang memiliki kebiasaan menggunakan bedak juga sama. Sisa bedak di jari tangan terkadang menimbulkan reaksi pengelupasan kulit yang tentunya secara temporer bisa mengganggu kemampuan mesin membaca sidik jari orang tersebut.
4. Gosokkan kedua tangan dengan cepat (anggap saja lagi mau buat api di zaman batu)
Orang yang sedang kedinginan akan cenderung mengalami kekeringan kulit, termasuk di telapak tangan dan ujung-ujung jari. Jika ujung jari dalam kondisi sangat kering, kadang timbul reaksi pengelupasan juga, sehingga kasusnya akan mirip dengan kasus bedak di atas. Jadi, taktik menggosok-gosokkan kedua tangan dengan cepat hingga timbul rasa hangat, secara intuitif bisa digunakan. Dan pada beberapa orang terbukti berhasil.
5. Copy sidik jari teman ke selotip
Lihat-lihat dulu kalau mau pakai taktik ini. Orang yang sidik jarinya mau kita pakai harus juga terdaftar di tempat yang mau kita masuki, kalau gak mau malu-maluin karena dituduh mau nyelonong masuk. Kalau di tempat kerja, metode ini tidak bisa dipakai. Karena nanti yang terbaca di mesin adalah sidik jari teman kita, bukan sidik jari kita sendiri.

Nah yang repot kalau kebetulan ponsel orang-orang malang ini harus menggunakan sensor sidik jari untuk membuka gemboknya. Bisa-bisa ponsel sendiri tak bisa dibuka meskipun sudah jelas-jelas yang membuka adalah sang empunya, cuma gara-gara alat sensor di benda yang pintar itu ternyata tidak terlalu pintar menilai sidik jari yang terlalu halus.

Tidak cuma itu. Mereka juga bakal kerepotan kalau berurusan dengan fasilitas umum yang ada main sidik jari-sidik jarian. Misalnya waktu buat e-KTP di kantor kelurahan atau uji biometrik waktu mengurus visa. Alatnya bisa gempor juga kalau dipakai terus-terusan untuk berurusan dengan manusia-manusia ajaib “tanpa sidik jari” ini (bukan saya yang bilang tanpa sidik jari, tapi mesinnya. Toh tidak kebaca kan?).

Entah apakah ada prosedur yang bisa membuat sidik jari orang lebih jelas, tapi kalau ada, pastilah sangat mahal. Karena sebagian besar manusia di dunia ini memiliki sidik jari yang mudah terbaca oleh alat sensor (Ya iyalah. Kalau begitu kenapa manusia masa lalu bisa menciptakan alat sensor sidik jari kalau memang lebih banyak orang yang sidik jarinya tidak bisa dibaca daripada yang bisa?).

Atau mungkin akan ada metode identifikasi yang murah meriah namun memang mudah dilakukan untuk semua manusia, tanpa terhalang lotion, bedak, tipe kulit, atau apapun. Tentunya kaum minoritas akan menunggu penuh harap, tapi entah sampai kapan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s