Tingkat Kekerenan Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia itu termasuk bahasa yang kurang keren untuk dipelajari. Satu kata, rerata terdiri atas lima sampai delapan huruf, kata-katanya relatif panjang-panjang (hanya bisa dikalahkan oleh bahasa Jerman), dan istilah-istilahnya kurang bergengsi, kelas semenjana. Bahasa Indonesia terkesan ndeso, tidak mentereng kalau dijajar bersama bahasa dari bangsa-bangsa lain di dunia. Bahasa Indonesia dianggap terlalu tertinggal dan tak sanggup mengikuti globalisasi. Sangat sering kita mencari padanan kata bahasa Indonesia dari suatu istilah bahasa Inggris, tapi tidak ketemu. Benarkah itu semua?

Pertama, bahasa yang kurang keren untuk dipelajari. Tampaknya, pandangan ini hanya berlaku di Indonesia itu sendiri. Karena ternyata, beberapa negara memasukkan bahasa Indonesia dalam kurikulum pengayaan/pilihan di sekolah menengah. Bahwa bahasa Indonesia sudah dimasukkan sebagai salah satu bahasa yang dibuatkan buku-buku tutorialnya oleh para penerbit buku bahasa terkenal di dunia (Silakan cek di Kinokuniya mengenai hal ini). Bahwa bahasa Indonesia termasuk dalam sepuluh bahasa yang penuturnya terbanyak di dunia.

Keren atau tidak, sebetulnya tergantung sudut pandang. Kalau dianggap penutur bahasa Indonesia tidak banyak, jelas salah: Penduduk Indonesia saja sudah lebih dari 250 juta orang, dengan jumlah penduduk termasuk dalam lima besar terbanyak di dunia. Kalau dianggap bahasa Indonesia tidak menarik di mata internasional, mengapa penerbit kelas dunia dan negara maju mau mempelajarinya? Di sini, mungkin berlaku pepatah “rumput tetangga selalu lebih hijau”. Padahal belum tentu demikian. Kita saja yang tidak menilai dengan tepat sesuatu yang memang sudah kita miliki sendiri sejak awal kita menyadari konsep milik-memiliki di dunia ini.

Lalu mengenai padanan kata. Mengenai urusan yang satu ini, mungkin kita perlu kembali sejenak ke permasalahan bahwa bangsa Indonesia tidak merasa bahasanya “keren”. Karena memang ada hubungannya.

Sejak era globalisasi menghampiri bangsa Indonesia (yang sebetulnya entah kapan), dan ditambah mental terjajah yang tak pernah tertanggalkan sejak awal ratusan tahun silam, orang Indonesia selalu terpikat dengan apapun yang berbau “asing”. Termasuk istilah. Mengeluarkan istilah asing dari mulut ataupun dari jari akan menimbulkan kesan teramat keren, sehingga nyaris semua orang berlomba mengumpulkan istilah asing yang dikuasai.

Sementara salah satu sudut sibuk dengan mencampuradukkan istilah Inggris saat berbicara bahasa Indonesia (terutama setelah diprakarsai beberapa public figure), sudut lainnya malah sibuk mengubah huruf E menjadi angka 3, huruf A menjadi angka 4, huruf R menjadi angka 12, dan seterusnya. Hingga di suatu titik, mereka lupa bahwa mereka punya bahasa sendiri, yang sesungguhnya punya padanan kata untuk istilah asing nan keren itu, atau istilah ajaib campuran antara heksadesimal dan alfabetikal itu. Hanya saja, itu tadi, mereka lupa. Kamus Besar Bahasa Indonesia hanya dijadikan penghias rak buku, penghuni tetap perpustakaan. Tidak tersentuh lagi oleh tangan-tangan generasi penggenggam gadget. Semua orang tahu apa itu download, tak sesedikit yang tahu apa itu unduh. Semua orang tahu apa itu e-mail, tapi begitu ditanya surel semua kebingungan. Orang lebih paham apa itu browser ketimbang peramban. Sama halnya dengan network dan jejaring, online dan daring, database dengan basis data, dan seterusnya. Semua orang tahu cara menulis angin, tapi tidak sedikit yang tidak tahu berapa huruf G yang seharusnya ada di kata “mengganggu”. Tak sedikit pula yang kadung nyaman menuliskan “Kpd” ketimbang “Kepada”, “utk” daripada “untuk”, hanya karena terbiasa mengetik pesan pendek beraroma bak telegram masa kini.

Bahkan bukan perkara aneh, di dekade 2010-an ini banyak anak yang sengaja dimasukkan orang tuanya ke sekolah berbahasa pengantar utama Inggris, dan begitu pulang ke rumah dan bermain dengan anak tetangga pun anak itu tak berdaya untuk berkomunikasi dalam bahasa ibu orang tuanya sendiri! Bukan perkara aneh pula saat seseorang memasukkan istilah-istilah gaul ke dalam surat lamaran kerja. Atau mencantumkan kata-kata singkatan di dalam e-mail pekerjaan, atau bahkan tercebur dalam laporan skripsi.

Atau jika kita masuk ke bagian jurnalistik dan tulis-menulis. Buku di zaman 1990-an dan 2000-an masih menjunjung tinggi yang namanya ejaan baku. Sedikit salah saja penerbit sibuk pasang ralat sana sini untuk memulihkan nama baik. Editor dituntut punya ketelitian mata elang dan tidak boleh salah sedikitpun. Sekarang? Yang saya heran, saya pernah membaca dua buku terbitan sekumpulan penulis Indonesia, yang menerbitkan pun adalah salah satu penerbit ternama. Satunya novel, satunya lagi self-motivation. Di buku fiksinya entah berapa puluh kali nama tokohnya salah ketik. Di buku nonfiksinya, saya sudah menemukan lebih dari 10 typo sementara saya belum membaca buku itu sampai setengahnya. Celakanya lagi, seluruh typo adalah dalam bahasa Indonesia. Semua istilah Inggris yang ditampilkan adalah sempurna, tanpa kekeliruan. Jika boleh agak pedas berkomentar, barangkali beginilah editor masa sekarang: Yang penting kejar setoran buku terbit, soal ejaan nanti dulu. Ini pun mengurungkan niat untuk menghargai bahasa nasional sendiri.

Guru kita mungkin pernah berkata, “Kamu boleh berbahasa Inggris dengan sangat baik, tapi kamu tetap orang Indonesia. Dan kamu belum bisa bangga jika nilai ujian bahasa Indonesiamu selalu lebih jelek daripada nilai ujian bahasa Inggrismu.” Barangkali sampai kini kita berbangga hati jika ujian bahasa Inggris dapat bagus, tapi tak pernah miris kalau ujian bahasa Indonesia dapat jelek. Selalu ngeles, ujian bahasa Indonesia paragrafnya panjang-panjang dan tidak keburu menarik esensinya. Otak saya (kita juga, barangkali) pun sibuk mencari alasan. Bahasa Indonesia diajarkan terlebih dahulu kepada saya, sejak pusat bahasa di otak saya masih berkembang dengan pesat. Sedangkan bahasa Inggris baru masuk ke otak kita belakangan, bahkan mungkin setelah pusat bahasa di otak saya berhenti berkembang. Jadi, di tahun saya menghadapi ujian bahasa Indonesia kelas XII, guru-guru dan tim pembuat soal menganggap kita sudah belajar bahasa Indonesia selama 17 tahun, sementara kita baru belajar bahasa Inggris selama 5 tahun. Jadi tentu saja tingkat kesulitan soalnya berbeda.

Tapi, setelah kita simak kembali, inilah fenomena remaja Indonesia soal bahasa: Giliran bicara bahasa Inggris, remaja-remaja yang sedang narsis-narsisnya itu bangga minta ampun. Namun ketika ditanya tata bahasa Indonesia, yang tahu seluruh aturan Ejaan Yang Disempurnakan tidak sampai lima orang dalam satu angkatan. Sementara remaja-remaja itu berlomba-lomba menghapal enam belas tenses dalam tata bahasa Inggris dan mendaftarkan diri ikut lomba pidato dalam bahasa Inggris, tak ada yang rela berkutat dengan buku sastra Indonesia zaman kolonial, yang konon indah-indah itu. Ah, tak cuma remaja. Generasi dewasa muda pun sama saja. Bikin status yang penting pakai bahasa Inggris. Bahkan yang sudah magister atau doktor sekalipun, mau salah grammar tidak apa-apa. Belum lagi plus singkatan belepotan sana ini di status dan komentar-komentarnya. Padahal, yang baca belum tentu mengerti, atau sebenarnya mengerti tapi keburu terbahak duluan dalam hati karena tata bahasa yang amburadul.

Tak berhenti sampai di situ. Ketika kita berurusan dengan dunia tulis-menulis pun, banyak orang yang sulit menerima ejaan yang ia rasa asing namun benar, ketimbang ejaan yang ia rasa benar tapi malah salah. Sebagai contoh, “silahkan” dan “mempengaruhi”. Dua kata ini lazim dipakai, namun sebetulnya tidak baku. Bentuk bakunya adalah “silakan” dan “memengaruhi” (bisa diperiksa di Kamus Besar Bahasa Indonesia). Alasan penolakan ini bisa bermacam-macam, mulai dari hanya sekadar malas menerima perubahan atas sesuatu yang sudah mendarah daging, ditekan oleh pihak lain, sampai karena rasa superioritas.

Barangkali kita, termasuk saya, sulit menulis dalam bahasa Indonesia. Entah karena malu, inferioritas, kurang percaya diri dengan tata bahasa. Entah. Terus terang, buat saya menulis dalam bahasa Indonesia, apalagi menulis buku harian, sangat sulit. Tetapi, perlahan-lahan tentunya kita harus mencoba mengatasi ketakutan tersebut.

Menjadi nasionalis tidak harus berbangga diri menunjuk dada kiri ketika menonton pertandingan sepakbola antarnegara Asia Tenggara. Menjadi nasionalis tidak perlu koar-koar ketika karya anak bangsa diakui dan diganjar penghargaan kelas dunia. Penguasaan bahasa tentu bisa jadi salah satu simbol nasionalisme. Jadi, jangan malu dengan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia merupakan identitas nan kaya yang menunggu untuk kita jelajahi lebih jauh. Ketika kita semakin larut menjelajahinya, kita akan sadar dengan keindahannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s