Rokok di Indonesia: Tarik tambang yang berat sebelah

Rokok. Selintingan tembakau yang dilapis kertas dan digunakan dengan cara dibakar, lalu ujung sebelahnya diisap sehingga aroma tembakau akan masuk ke saluran napas, memberikan sensasi tersendiri, dan uapnya akan dikeluarkan lewat hidung dan mulut kembali. Aktivitas yang digemari banyak orang, tak sedikit bahayanya, namun banyak juga yang membenarkan tindakannya sendiri.

Sejak dahulu, rokok adalah bagian dari gaya hidup. Rokok juga sudah menjadi salah satu kebutuhan utama orang tertentu. Ada kalanya, kebutuhan akan rokok dianggap lebih mendesak daripada kebutuhan makan. Merokok sudah cukup mengenyangkan, jadi melangkahi waktu makan pun tidak jadi soal. Merokok lebih penting daripada membeli sembilan bahan pokok, atau barangkali rokok sudah menempati ranking tiga besar untuk sembilan bahan pokok itu sendiri. Uang rumah tangga boleh habis, tapi uang rokok harus jalan terus, sedikit pun jadi. Merokok di tempat umum adalah tuntutan sosial agar terlihat keren dan banyak orang (yang pastinya sesama perokok) mau mendekat.

Mungkin banyak orang sudah tahu. Merokok sudah mulai diharamkan di negara-negara maju karena sudah terbukti dengan sangat jelas merusak kesehatan manusia. Taktik yang diterapkan untuk membasmi rokok pun bermacam-macam.

  1. Menaikkan harga rokok. Dengan melambungnya harga rokok melebihi harga dua atau bahkan tiga porsi makanan dalam sehari, orang jadi berpikir mau beli rokok. Apalagi kalau dompet sedang cekak, pasti berpikirnya jadi lebih dari sepuluh kali. Karena merokok itu sebetulnya tidak “mengenyangkan” dalam arti yang sebenarnya.
  2. Membatasi ruang gerak perokok dan menghukum pelanggarnya. Sudah bukan pemandangan aneh jika di negara-negara maju aktivitas merokok itu dilarang untuk dilakukan di muka umum, dan bukan rahasia umum pula bila perokok hanya diperbolehkan nongkrong di dekat asbak, yang mana letaknya satu sama lain sangat berjauhan.
  3. Mengeluarkan undang-undang terkait tembakau dan pemasaran rokok. Dengan kata lain, pemerintah memang tahu benar bahwa rokok itu merugikan kesehatan, dan mereka mendukung habis-habisan pemusnahan rokok secara massal. Pemerintah pun perlahan-lahan sanggup mengalihkan ritme ekonomi para pekerja pabrik rokok ke industri lain yang membutuhkan tenaga mereka.
  4. Institusi kesehatan internasional tak henti-hentinya membuat kampanye antirokok dengan video dan poster yang seram-seram, kalau perlu luka sisa kanker dan penderitaan pasien kanker paru serta kanker pita suara semuanya diperlihatkan dengan sangat jelas. Ada lagi bonusnya, yaitu para penderita penyakit vaskuler perifer yang terpaksa diamputasi karena pembuluh darah tepinya tersumbat akibat rokok.
  5. Perusahaan farmasi juga tidak ketinggalan. Mereka menciptakan berbagai obat yang sedianya digunakan sebagai terapi nicotine replacement atau sejenisnya, dengan satu tujuan: Menghentikan kecanduan rokok oleh penggunanya.

 

Tapi efektif atau tidaknya, hanya pengalaman yang membuktikan.

Toh buktinya, ada ataupun tidaknya kampanye antirokok, sebagian perokok memang ingin berhenti tapi kesulitan. Yang lain, ada yang tak ingin berhenti karena takut dikucilkan kelompok sosialnya.

Perokok menang 1-0.

Kata guru kita, merokok sama dengan membakar uang kertas dan mengisap asapnya. Uang habis, paru-paru ikut habis. Tapi, di kantor guru mereka masih juga merokok. Mereka menyombong mereka kerap merokok sepanjang hari tapi toh tidak kenapa-kenapa, tapi sepuluh tahun berselang mereka pun sudah tiada. Penyebab kematian mereka sama semua: Kanker. (Ingat peringatan tentang rokok: Merokok menyebabkan kanker, gangguan kesuburan, dll)

Kata orang-orang dewasa di sebuah iklan Thailand, merokok itu tidak baik buat kesehatan, sehingga mereka spontan menasihati anak kecil agar jangan merokok. Tapi toh mereka sendiri masih merokok juga. Yang menonton iklan itu, apalagi. Kan itu di Thailand bukan di Indonesia, mereka pun ngeles.

Kata pemerintah kita, merokok tidak baik buat kesehatan. Tapi, entah karena malas mencari jalan keluar, tidak kreatif mengeksplorasi sumber pencaharian ekonomi yang baru, karena kerabatnya dibiayai beasiswa perusahaan rokok, karena mendapat porsi keuntungan dari perusahaan rokok, atau gabungan keempatnya, mereka berkedok di balik ungkapan tak tega membunuh industri tembakau dan para pekerja di negara sendiri. Jangankan memerintahkan, oknum pemerintah yang merokok sendiri masih banyak.

Kata dokter kita, merokok bisa menyebabkan berbagai gangguan kesehatan. Tapi jangan heran, banyak dokter yang masih merokok juga.

Di sisi lain, perusahaan rokok Indonesia memang pintar memanfaatkan celah yang terbentuk oleh sejumlah faktor, antara birokrasi pemerintah hingga kondisi perekonomian bangsa. Ini buktinya:

  1. Pemilik perusahaan rokok terbesar di Indonesia saja tidak merokok. Ada yang bilang dia oportunis, mengambil keuntungan di balik kebodohan orang yang masih mau merokok. Ada yang bilang dia licik, karena sudah tahu rokok itu berbahaya tapi masih juga mau berbisnis rokok. Mungkin saja para petinggi perusahaan rokok memang berniat jahat buat kesehatan Indonesia secara umum, namun jika ditinjau dari aspek bisnis semata, “memanfaatkan peluang bisnis” adalah suatu kewajaran, dan dalam hal ini rokok adalah suatu kesempatan emas yang eksklusif ada di Indonesia.
  2. Rokok selalu menjadi produk dengan iklan terkeren dan terinovatif kalau dibandingkan dengan iklan produk lain. Alasannya tak lain adalah karena iklan rokok selalu diidentikkan dengan (sosok pria yang memperlihatkan) kegagahan dan keberanian. Siapa juga yang tidak mau jadi keren (apalagi para remaja)? Belum lagi, merk rokok kadang jadi ukuran atau patokan kekerenan seseorang. Perokok yang menggunakan rokok murah bisa jadi dianggap lebih rendah kastanya oleh perokok yang menggunakan rokok merk premium atau merk legendaris.
  3. Dalam sejarah memang pihak berwenang (terutama yang berkenaan dengan rokok) mudah digoyang dengan pelicin bawah meja, sehingga gertak sambal berbunyi menutup perusahaan rokok dan mempersulit gerak gerik pertumbuhan usaha rokok di Indonesia tak pernah jadi kenyataan.

Lalu apa yang dilakukan sebagai timbal balik dari kepintaran perusahaan rokok dalam memanfaatkan celah yang diciptakan pihak berwenang itu sendiri?

  1. Kaca film di bagian belakang busway. Sudah jadi rahasia umum bahwa apapun yang ditulis orang di belakang mobilnya, truknya, atau bahkan busnya, memang akan dibaca, tapi tak pernah diresapi. Sama halnya dengan berbagai kampanye antirokok yang melekat di kaca film bagian belakang busway. Rasanya sudah cukup inovatif untuk skala Indonesia. Namun, apakah ada yang benar-benar bertobat merokok setelah melihat iklan itu?
  2. Pemerintah mengeluarkan peraturan tentang daerah-daerah di mana perokok tidak boleh merokok. Seperti peraturan-peraturan lainnya, peraturan ini hanya hangat-hangat pantat ayam dan setelah lewat sebulan, tidak pernah ada gembar-gembor dan realisasi nyata yang terjadi. Perokok tetap berkeliaran di mana-mana dan meniupkan asapnya sebebas-bebasnya.
  3. Ada lagi, aturan pemerintah soal peringatan bahaya rokok di kemasan semua rokok yang dijual di Indonesia. Tapi, seperti halnya kaca film busway, tidak ada yang peduli dengan peringatan itu meskipun fotonya sudah dibuat seram-seram.

 

Kembali lagi, bukti nyata terlihat di lapangan. Perokok tetap sanggup mengembalikan pukulan yang mendarat bertubi-tubi di tubuh mereka dengan dinamis.

Jadi, para penganut antirokok sudah tertinggal 2-0.

Ketika para perokok mulai mengalami keluhan kesehatan, antara penyakit paru kronik obstruktif atau kanker paru; mereka mulai menyalahkan sana sini. Berikut visualisasinya.

  1. Menyalahkan dokter (dan farmasi). Dokter adalah figur yang paling pertama dipersalahkan ketika terjadi masalah yang mengancam nyawa seseorang. Termasuk dalam kasus ini. Kanker paru bukanlah penyakit yang mudah penanganannya. Sekali didiagnosis orang umumnya hanya akan bertahan dalam hitungan bulan sebelum ajal tiba. Terapi sangat mahal, sudah begitu hanya memperpanjang hidup beberapa bulan. Lalu, perokok pun menyalahkan dokter atas biaya terapi yang selangit. Atau jalan lain: Perokok dan keluarganya mencari-cari kesalahan dokter yang merawat mereka. Padahal, belum tentu dokter yang merawat mereka itu merokok. Dan anehnya lagi, dokter itu kan baru bertemu mereka ketika mereka sudah sakit.
  2. Menyalahkan pemerintah. Pemerintah adalah figur kedua yang dipersalahkan sehabis dokter. Pemerintah terlalu lembek, tidak berani naikkan pajak rokok, tidak berani larang rokok dijual bebas di warung-warung, tidak berani naikkan harga rokok, tidak kreatif carikan lapangan kerja baru, atau apalah; sehingga rokok terus merajalela di Indonesia sementara di luar negeri sudah makin mendekati musnah. Kalau sudah begini jadinya lucu, mereka senada dengan orang yang antirokok. Jadinya senjata makan tuan. Tapi yang lebih aneh: Yang dulu memutuskan mau merokok, pemerintah atau diri sendiri?
  3. Menyalahkan keluarganya yang merokok. Kanker dan penyakit paru obstruktif kronik itu penyebabnya banyak, dengan asap rokok adalah penyebab utama. Biasanya, sudah kejadian barulah si perokok di rumah itu berhenti merokok. Entah kejadian yang menimpa dirinya sendiri, ataupun menimpa anggota keluarganya. Dan, biasanya itu berarti berhenti merokoknya sudah terlambat, karena artinya saat itulah rokok sudah memperlihatkan aksinya dalam merenggut nyawa manusia.
  4. Menyalahkan pihak luar negeri. Ada banyak artikel yang menceritakan bagaimana bangsa tertentu sangat menghindari rokok, bagaimana bangsa tertentu maju karena mereka sudah melarang rokok sejak dahulu, bagaimana bangsa tertentu menciptakan anak pintar karena menghindari rokok; malah dicap sebagai “upaya antek asing dalam menguasai Indonesia”. Ingatlah salah satu prinsip dasar kita: Setiap ada pendapat pihak asing yang tak cocok dengan pendapat kita, maka kita anggap pihak asinglah yang bersalah atas keburukan yang menimpa kita. Dalih “perokok Indonesia saja ada kok yang bisa berprestasi internasional” pun jadi generalisasi tempat bersembunyi buat para perokok yang marah disentil dengan cara demikian.

Pendek kata, memang banyak perokok yang sangat cepat emosi ketika dikritik soal rokoknya.

Di sini perokok lagi-lagi menang telak, skor berubah jadi 3-0.

Jika ini pertandingan final bulutangkis, perokok sudah menang 3 games, artinya perokok memenangkan trofi bulutangkis yang bergengsi tersebut.

Jika diterjemahkan ke bahasa manusia, artinya perokok adalah pemenang dari tarik tambang antara pro-rokok dan antirokok di Indonesia.

Jika semua sudah tahu teorinya, sudah banyak bukti nyatanya, tapi masih mau memancing bahaya juga untuk diri sendiri, dan tak pernah berniat berhenti meskipun sudah tahu itu semua… Mengutip kalimat Albert Einstein, insanity is doing the same thing over and over again and expecting different results. Bukannya berani atau gagah. Tapi gila.

Sekali lagi, itu kata Einstein. Bukan kata saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s