An Abundance of Katherine (John Green, 2006/2014)

Identitas Buku

anabundanceofkatherinesJudul asli: An Abundance of Katherine
Judul terjemahan: Tentang Katherine
Pengarang: John Green
Genre: Young-adult fiction
Ukuran: 13.5 x 20 cm
Tebal: 320 halaman
Terbit di negara asal: 2006
Terbit di Indonesia: Mei 2014
Cover: Softcover
ISBN: 978-602-03-0527-1

 

 

Sinopsis Official

Katherine V menganggap cowok menjijikkan.
Katherine X hanya ingin berteman.
Katherine XVIII memutuskan Colin lewat email.
Kalau soal pacar, ternyata tipe yang disukai Colin Singleton adalah cewek-cewek bernama Katherine.

Dan kalau soal Katherine, Colin selalu jadi yang tercampak. Setelah diputuskan Katherine XIX, cowok genius yang hobi mengotak-atik anagram ini mengadakan perjalanan panjang bersama teman baiknya. Colin ingin membuktikan teori matematika karyanya, supaya dapat memprediksi hubungan asmara apa pun, menolong para Tercampak, dan akhirnya mendapatkan cinta sang gadis.

 

Resensi

Buku John Green. Setelah para remaja dan gadis-gadis mellow merekomendasikan film Fault in Our Stars sambil berkaca-kaca dan berurai air mata, saya memutuskan bahwa buku pertama John Green yang akan saya baca sudah pasti BUKAN Fault in Our Stars. Alasannya ya itu tadi, karena saya sudah nonton film tentang Gus dan pacarnya itu, tapi saya menganggap cerita itu biasa saja. Lalu, Looking for Alaska kelihatannya tidak terlalu menarik (jika hanya disimpulkan dari sampul belakang bukunya). Dan buku John Green yang tersisa di ingatan saya adalah An Abundance of Katherines.

Alternate cover, sesuai referensi dari Goodreads.

Ceritanya Colin Singleton, remaja berusia 17 tahun yang sejak lahir dirujuk sebagai anak ajaib, memang memiliki bakat anagram dan pengetahuan akademis (terutama matematika, fakta, dan bahasa) yang luar biasa, tetapi dia memiliki pengalaman pahit dalam percintaan di mana dia selalu dicampakkan oleh gadis-gadis bernama Katherine (jumlahnya ada 19).

Lalu, yang menjadi tanda tanya besar adalah apa yang terjadi ketika Colin memutuskan untuk mencoba membuat model matematika tentang percintaan, yang bisa meramalkan bagaimana akhir dari suatu cerita percintaan. Colin amat berharap bahwa temuannya ini bisa menjadi penanda bahwa ia menemukan kejeniusan dari dalam dirinya (baca: Momen Eureka).

Dalam usahanya itulah, kita turut mengenal karakter Hassan Harbish, remaja Arab-bukan-teroris, teman akrab Colin satu-satunya di dunia ini, yang selalu berusaha menjadi orang lucu namun sangat “pengertian” (dalam artian yang unik) dengan Colin. Dilengkapi pula dengan gadis bernama Lindsey Wells (sepertinya sih nama aslinya bukan itu tapi berhubung lagi gangguan memori jangka pendek, saya lupa nama lengkapnya), gadis yang dalam perjalanan kisah ini mau tidak mau dipaksa untuk “berdekatan” dengan Colin dalam petualangannya.

Ketika melihat sinopsisnya, bisa jadi orang akan tertarik dengan (entah kebetulan atau fakta bahwa) Katherine-Katherine yang hadir dalam kehidupan Colin sebelumnya. Berhasilkah dia membuat teori yang diharapkannya, dan berhasilkan dia mendapatkan cinta yang ia inginkan. Tapi ketika mengetahui bahwa buku ini sarat akan matematika dan teori-teorinya, mungkin sebagian orang akan mundur.

Saya menyarankan agar jangan terlalu khawatir soal itu. Sebetulnya unsur matematika yang dimasukkan ke buku ini, bisa dibaca, bisa juga dilewatkan. Saya yang tidak lagi berminat dengan matematika dalam beberapa tahun terakhir tentu memilih untuk melewatkannya saja. Cara John Green mengurai istilah ajaib dengan catatan kaki yang kadang serius kadang kacau balau itu pun menjadi salah satu ciri khas buku ini (serius, hanya dengan membaca catatan kaki saja kita bisa tertawa).

Persahabatan Colin dan Hassan juga menarik. Colin yang setengah Yahudi dan Hassan yang Arab direka jadi sahabat yang sudah sanggup saling olok tanpa rasa malu, dan adegan ketika keduanya bertengkar pun cukup menarik untuk disimak. Colin pun bisa-bisanya mengabaikan suatu hal dari diri Hassan yang memang tampak jelas dari awal cerita ini dituturkan. Momen awal persahabatan mereka memang jorok namun sangat khas, dan bisa bikin tertawa terbahak-bahak. Selanjutnya, cara mereka mengumbar aib, termasuk mengumbar tingkat religiusitas masing-masing, pun rada vulgar tapi lucu, kalau tidak dibilang terlalu liberal atau justru menjurus sarkasme.

Peran Lindsey dan emaknya Hollis juga unik. Di mana para pembaca sudah mengerang kesal dengan karakter Colin yang (sungguh teramat) membosankan, Lindsey masih membawa harapan bagi pembaca, yang seolah “menjanjikan” bahwa di akhir cerita Colin akan mendapatkan sesuatu darinya.

Hal menarik lainnya adalah kecerdasan Colin dalam merangkai anagram yang hasilnya pun luar biasa dan aneh-aneh. Terutama ketika dia dan Hassan menetapkan satu kata sandi bersama, tiba-tiba di otak Colin sudah ada anagramnya, segunung lagi. Waduh!!

Sebagai buku pertama John Green bagi saya, saya tidak memiliki ekspektasi apapun saat menikmati buku ini. Memang yang saya harapkan adalah sesuatu yang “wah”, tapi itu tidak spesifik untuk buku tertentu, tidak pula buku ini. Menikmati buku ini memang menarik di awal, ketika Colin baru diperkenalkan, memulai perjalanan, bercerita tentang Katherine I, dst.

Namun ketika cerita sudah makin ke tengah, memang aliran ceritanya masih baik, namun ada bagian-bagian yang mulai terasa membosankan, dan celakanya, John Green berhasil membangun karakter menyebalkan dalam diri Colin, sampai-sampai pembaca pun geram melihat geeky-behaviour dari Colin. Sampai-sampai “kalau orang macam Colin benar-benar ada, tak bejek-bejek tuh anak!” pun terpikir berkali-kali oleh saya!

Dan, betul-betul untung ada Hassan, sehingga cerita ini tidak jadi benar-benar kentang. Jadi, jika orang-orang bilang “An Abundance of Katherine is the least favorite book of John Green“… Saya belum bisa berkomentar. Tapi secara umum, bukunya cenderung biasa saja (apalagi ending-nya, jujur saya tidak suka); meskipun ada beberapa nilai positif dari buku ini yang patut dicamkan.

  1. Terkadang ada ilmu yang jika kita kuasai akan membuat kita terlihat lebih keren daripada orang lain, tapi manusia yang mampu hidup lebih efektif-lah yang akan memenangkan berbagai permasalahan di kehidupan ini. Tamparan keras bagi orang tua yang selalu mendorong anaknya menguasai berbagai ilmu tanpa mendidik manfaat dari ilmu yang dikuasai tersebut, menarik.
  2. Tidak ada manusia yang benar-benar dibenci oleh semua orang, bahkan ketika orang itu sangat menyebalkan sekalipun.
  3. Untuk yang sudah baca, dua kalimat yang muncul berkali-kali di bab terakhir juga perlu dicamkan (saya tidak akan umbar di sini, agar tidak dituduh membocorkan).
  4. Di sinilah tergambar bagaimana sahabat itu didefinisikan. Sahabat adalah orang yang selalu ada ketika kita kesulitan. Bukan orang yang hanya ada ketika kita senang (coba lihat kasus tawon!).

 

Kesimpulannya… Saya tidak bisa bilang buku ini istimewa, tapi ingat bahwa terkadang kita berekspektasi tinggi, namun sesuatu yang kecil bisa membawa makna lebih bagi kehidupan kita dengan cara yang unik tanpa kita sadari.

P.S. Kalau buku ini difilmkan seperti Paper Towns atau Fault in Our Stars, 100% saya tidak akan berminat menontonnya. Pasti karakter Colin akan sangat membosankan.

 

My ratings

  • Story 6/10
  • Excitement 6/10
  • Readers grasp 7/10
  • Tagline association 7/10
  • Moral value 7/10
  • Personal Goodreads Rating 3/5
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s