13 Sins (2014)

Identitas Film

13-sinsCensor rating: R
Duration: 93 minutes
Genre: Horror, thriller
Release date: April 11, 2014
Language: English
IMDb rating: 6.3/10
Metacritic score: 44%
Rotten Tomatoes Tomatometer: 62%
Director: Daniel Stamm
Casts: Mark Webber, Devon Graye, Tom Bower, Rutina Wesley, Ron Perlman

Sinopsis Official

A cryptic phone call sets off a dangerous game of risks for Elliot, a down-on-his luck salesman. The game promises increasing rewards for completing 13 tasks, each more sinister than the last.

Resensi

Entah bagaimana, hasil rekomendasi itu berhasil mendesak saya menonton film yang kurang dikenal ini. Pemerannya pun tak ada yang merupakan aktor-aktris terkenal. Bintang utamanya saja (Mark Webber) punya nama yang sama dengan salah satu mantan pembalap Formula 1 (bahkan sampai ejaannya pun sama loh ya), tapi dengan tampilan fisik beda 180 derajat; sampai-sampai saya agak kebingungan pada awalnya. Lalu meninjau sinopsisnya, film ini mengangkat sadisme ala Saw dan sekuel-sekuelnya. Judul juga menjaja dua unsur buruk di muka bumi: Angka 13 (yang identik dengan kesialan), dan sins (yang berarti dosa-dosa). Lengkaplah sudah untuk menghakimi di muka bahwa film ini jelek! Atau, minimal film bertema dark.

Tema pembuka 13 Sins sederhana, namun mungkin merupakan gambaran realita hidup di mana semua orang bisa mengalami kesialan. Tidak tanggung-tanggung, cerita dibuka dalam kesialan pangkat tiga. Kisah dibuka dengan kesialan berlapis yang menimpa Elliot sang tokoh utama: Dipecat, tunangannya tak direstui orang tua (padahal sudah hamil), punya adik cacat mental, terbelit utang dalam jumlah besar. Namun, panggilan telepon di suatu malam seolah memberi titik terang. Pukul lalat itu, dan kau akan mendapatkan sejumlah uang.

Maka, lalat itu pun dipukul dan benar, dalam hitungan milidetik mendaratlah pesan yang menyatakan bahwa hadiah masuk ke rekening bank. Tak sampai di situ, rupanya di ujung sana ada undangan untuk suatu permainan. Syarat permainan ini mudah saja sebetulnya: Penuhi semua tugas yang dimintakan, dan jangan menceritakan kepada orang lain bahwa Elliot sedang menjalani permainan. Buat siapapun yang berhasil, akan dihadiahkan uang dalam jumlah sangat besar. Dan barang siapa yang memutuskan ikut namun gagal di tengah jalan, maka uangnya akan melayang semua.

Bayangkan kita berada di kondisi malang tadi, siapa yang tidak tergerak untuk ikut bermain dan mencoba mengubah nasib? Nah, sampai di sini, mungkin pada terbingung-bingung, sadismenya di mana? Coba ditonton sendiri, lalu temukan di mana letak sadismenya.

Dalam perjalanan cerita (yang sejujurnya – buat saya – mudah ditebak ending-nya ini), terlihat bahwa tugas yang tadinya hanya memukul lalat berkembang menjadi semakin sulit dilaksanakan. Dan itu bukannya sulit yang mengarah ke tugas-tugas tak mungkin seperti saat ospek, tapi lebih ke “sulit diterima dengan akal sehat bahwa ada manusia yang sedemikian antisosialnya mau melakukan itu demi uang”. Sulit diterima tapi ada yang demikian nekat untuk melakukannya! Bahkan tugas-tugas mendekati akhir bisa dibilang get out the worst part of a man could be. Sangat menguji prioritas hidup manusia yang ada di posisi sulit itu. Tapi, di luar dari alur yang mudah ditebak tadi, ditampilkan juga satu sisi cerita yang justru membuat film ini secara keseluruhan happy-ending. Dan yang menjadi puncak dari makna tema film ini, adalah adegan penutup ketika Elliot menelepon tunangannya.

Film ini menggambarkan dengan jelas bagaimana manusia bisa berubah sangat drastis apabila sudah dihadapkan dengan kebutuhan mendesak akan uang. Sangat bagus sebetulnya untuk mengingatkan bahwa hidup bukan cuma soal materi, tetapi juga soal hubungan sosial dengan orang di sekitar, dan kasih sayang dalam keluarga. Apalagi buat orang yang tidak sensitif kalau dikasih video-video mellow dari YouTube, kekerasan bisa jadi salah satu jalan yang membuat orang lebih mengingat potensi bahaya dari sikap dan nilai hidupnya. Memang untuk menunjukkan hal sederhana kadang diperlukan suatu pendekatan barbar. Dan film inilah salah satunya.

 

My Ratings

  • Story 5/10
  • Graphic 7/10
  • Audience grasp 5/10
  • Tagline association 8/10
  • Moral value 7/10
  • Personal IMDb rating 5/10
Advertisements

2 thoughts on “13 Sins (2014)

  1. Good day! I know this is kinda off topic but I was wondering which blog platform are you using for this site?
    I’m getting sick and tired of WordPress because I’ve had issues with hackers and I’m looking at
    options for another platform. I would be awesome if you could point me in the direction of a good platform.

    Like

    • Sorry that I have to answer, I think you have to search for solutions of such issues in Google. I don’t talk about blogging platform choice in my blog. I hope this helps. Have a good day.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s