Buku Dahulu, Buku Sekarang…

Buku zaman dahulu. Bentuk cetakan. Naskah tembus penerbit adalah kebanggaan luar biasa. Proofreading adalah wajib hukumnya, apesnya tak ada yang bisa menolongmu kecuali mata awas plus kacamata kuda yang terpasang sepanjang hari. Isi sudah barang tentu sensoran kiri kanan. Editor berkuasa layaknya pengarang aslinya. Atau bahkan lebih. Di saat buku sudah terbit, tinggal harap cemas orang akan membelinya. Tapi, seburuk-buruk rupa buku itu, pasti ada yang beli. Setidaknya koleksi perpustakaan kalau bagus, acuan belajar kalau jelek. Tak ada promosi besar-besaran. Iklan tak terjamah karena berkilometer-kilometer jauhnya. Tak bisa layangkan surat ke surat kabar mengemis diiklankan, tak ada slot tersisa. Tak bisa cetak poster, bahkan komputer pun tak ada yang kenal, apalagi bisa?

Membacanya pun memberikan nilai makna tersendiri. Membalik kertas, melipatnya saat mandi, menyelipkan pembatas saat makan, mengurai baris mana terakhir kautinggalkannya, terkadang hingga lupa makan lupa mandi lupa tidur (hampir saja lupa bernapas) hingga sampul buku terbalik dan kertas menutup muka di sisi kiri dan kanan… Apalagi kalau bukunya hasil beli kucing-kucingan karena ada yang tak setuju… Semua mewarnai hari-hari saat kita ditemani buku fisik. Nama mereka sang penulis, amat tersakralkan di dunia sastra. Semua yang pernah menerbitkan buku di toko buku pasti dinobatkan sebagai penulis terkenal oleh masyarakat. Pribadi nan diperhitungkan di ranah tulis menulis dan kritik literatur, meskipun barangkali masih anak bawang dalam faktanya. Bukunya memberi sensasi. Memberi tilikan jiwa yang tak terlupakan ketika halaman terakhir ditutup. Tak hilang juga hingga berhari-hari, bahkan ada yang bertahun-tahun.
Buku zaman sekarang. Tinggal ketik di komputer. Ada Microsoft Word, Pages, Wordpad, apapun namanya, sebagai aplikasi untuk mengetik. Ada autocorrect (meskipun buku penuh codet tulisan masih bertebaran di toko buku!). Bisa disinkronisasi ke ponsel pintar, bisa diajak mengetik saat menunaikan panggilan alam. Bisa proofread sendiri, tak usah menghadap sang grammar nazi yang tak jelas ada di mana, tapi selalu ada. Mata buram tak jadi soal. Siang kerja, malam masih bisa kerjakan buku sebagai kerjaan sampingan. Self-publishing di mana-mana. Iklan bertebaran tak ubahnya spam, laksana pamer punuk ala onta, tak butuh diumbar tapi eksis sendiri. Ketika masuk toko buku, bersiaplah hati hancur tatkala tak ada yang membeli, tatkala toko buku menerapkan sistem bagi hasil tak berperikepenulisamatiran, saat buku dikritik dan ditertawakan para kritik, saat karya itu kian menjatuhkan self-publishing, saat dicerca dan kenyataan bicara bahwa kamu tak bisa menghasilkan passive income lantaran kamu memaksakan diri dengan bakat semu yang sesungguhnya mungkin tak ada. 
Di sisi lain, terkadang buat sebagian orang, gembar gembor indah itu palsu. Tak benar adanya. Aku tidak suka, pendapatku tak sama dengan isi testimoninya, malah berlawanan. Tak ada sensasi meledak yang harusnya mewarnai suasana hati saat aku membacanya. Entah bagaimana. Sampulnya memberi janji bahwa buku ini akan menjawab tanya kita tentang suatu problematika hidup, namun belum tentu cara si penulis mengumbarnya itu sanggup menonjok ulu hati kita. Para pembaca mendambakan ledakan emosional, ledakan intelektual, ataupun ledakan-ledakan lainnya di saat mereka membaca bab-bab akhir; namun belum tentu bab itu ada. Terkadang, semua mendatar begitu landainya hingga akhir, hingga kita tersadar bahwa kita pun, barangkali, secara intuitif sudah tahu jawabannya, tanpa perlu membaca buku tersebut sampai habis, atau mungkin, tanpa perlu membeli buku itu.
Buku kini. Sebagian hilang sudah sentuhan magisnya. Format yang tak seragam, ada fisik ada digital, sebetulnya bukan masalah. Dia bukanlah sang kambing hitam. Isinya sama saja kalau memang bukunya sama. Namun, ada beda rasanya mengangkat tablet dan membalik kertas halaman buku. Entah karena mengetik kini begitu mudahnya, entah karena informasi sangat mudah dicapai dan iklan amat mudah dipublikasi tanpa sensor dan palang melintang kanan kiri, atau entah karena adanya degradasi kualitas saat seorang pengarang yang belum terasah sudah berani unjuk gigi di hadapan medan perangnya. Jumlah tak sejalan kuantitas, aku sering mendengarnya. Tapi aku sadar bahwa aku sendiri bukanlah orang yang demikian berkualitas sehingga bisa bilang begitu.
Aku tidak bilang buku zaman sekarang buruk. Buku bagus tak kenal zaman. Pengarang hebat hidup di berbagai zaman. Satu yang berbeda, sentuhan magis mesin cetak yang tak ada duanya lagi kini. Saat mencetak bukan lagi keajaiban monopoli percetakan, semua menjadi mudah dan ada degradasi apresiasi dari semua proses itu. Entah… Apa yang bisa memulihkan daya magis buku fisik, ketika degradasi itu kian menggerogoti sastra era kini?
P.S.
Permohonan maaf di muka, tidak pernah ada maksud buruk terhadap para self-publishers.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s