The 100-Year-Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared (2013)

Identitas Film

Original Title: Hundraåringen som klev ut genom fönstret och försvann
Origin Country: Sweden
Release date: December 25, 2013 {Scandinavia region); May 8, 2015 (USA)
Language: Swedish, German, English, Spanish, French, Russian
Genre: Adventure, Comedy
IMDb rating: 7.1/10
Metacritic score: 58%
Rotten Tomatoes Tomatometer: 67%
Director: Felix Herngren
Casts: Robert Gustafsson, Iwar Wiklander, David Wiberg, Mia Skäringer

 

Sinopsis Official

After living a long and colorful life, Allan Karlsson finds himself stuck in a nursing home. On his 100th birthday, he leaps out a window and begins an unexpected journey.

Resensi

The 100-Year-Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared, alias Hundraåringen som klev ut genom fönstret och försvann dalam judul bahasa aslinya. Eh… Sebentar. Ini film? Bukannya ini buku?

Ya, memang benar. Film komedi ini diangkat dari novel karya Jonas Jonasson yang berjudul sama. Buku ini tentunya sudah sama-sama kita ketahui, telah beredar versi bahasa Indonesianya dengan sampul berwarna hijau dan lumayan laku di Gramedia. Akun Twitter Bentang Pustaka (@bentangpustaka) mengadakan sayembara menulis resensi buku ini, namun karena belum baca, apa boleh buat sayembara tersebut pun terlewatkan. Entah harus tertarik atau harus tidak tertarik, saya sebetulnya ingin belajar menulis resensi tapi rasanya buku ini tidak tepat untuk saya jadikan awal. Namun, pada akhirnya, ketika tahu buku ini sudah difilmkan, saya memilih menonton filmnya saja. Meskipun sadar bahwa tidak seluruh bagian buku bisa difilmkan, seperti semua karya adaptasi yang pernah saya saksikan bentuk visualnya.

Cerita humor ternama asal Swedia ini memiliki konsep cerita sederhana, jika kita tinjau dari cover bukunya. Seorang kakek penghuni panti jompo akan berulang tahun yang keseratus, namun karena ia tidak ingin merayakannya, dia memilih lompat keluar dari kamarnya lewat jendela yang (konyolnya) tidak dikunci. Setelah itu terjadilah petualangan menarik yang kemudian beriringan dengan visualisasi sejarah hidupnya yang luar biasa, terhubung dengan ledakan-ledakan namun seolah diarahkan mirip Forrest Gump. Well, saat menyimak sinopsis seperti itu, ekspektasi saya terhadap versi filmnya adalah tentunya jangan sampai film ini seperti Forrest Gump. Entah bagaimana, saya tidak menyukai film juara Oscar terbanyak 1994 itu. Menurut saya, seorang dengan intelegensia rendah namun baik hati yang ditakdirkan bertemu banyak tokoh besar dunia adalah tema yang biasa saja, tidak ada sesuatu yang benar-benar “nendang” di hati seperti beberapa film wahid lainnya yang lahir di tahun yang sama.

Film berbahasa Swedia ini ternyata menggambarkan kisah bukunya dengan cukup baik. Mulai dari bagaimana nasib malang Allan, nama tokoh utamanya, dalam menghadapi tragedi kehilangan orang tua di usia muda, masuk rumah sakit jiwa anak muda gara-gara salah eksperimen bom, sampai saat dia bertemu Franco, kemudian Truman, Stalin, Reagan, dll. Semua digambarkan dengan menarik dan memiliki satu benang merah khas Forrest Gump: Keluguan di balik kebesaran nama tokoh yang terlibat. Namun, hanya sampai di sana kesamaannya. Perbedaan terlihat dari karakteristik orang-orang di sekitar Allan yang tanpa sengaja mengisi hari-hari abad keduanya dengan kekhasan masing-masing. Coba lihat Julius si penghuni stasiun Byringe yang ternyata baik hati walaupun awalnya terlihat galak. Atau Benny, si pemuda “hampir” yang kerap dihadapkan pada cobaan untuk menguji ketuntasannya dalam menjalani sesuatu. Dan yang jadi fokus utama, geng penjahat yang bertampang sangar-sangar tapi ternyata sangat konyol, bernasib sial, dan terlalu serius sampai-sampai lupa detail yang penting (coba lihat kasus Gunilla). Sampai-sampai karakter yang hadir dalam masa lalu Allan pun tak kalah membuat terbahak-bahak. Buat saya, yang terlucu adalah Herbert Einstein, yang betul-betul tolol, padahal berwajah mirip sepupu fiktifnya yaitu Albert Einstein. Dipadukan dengan kesederhanaan pola pikir Allan dan orang-orang di sekitarnya; setuju bahwa film ini, secara keseluruhan, memang lucu.

Sudah tak asing bagi orang-orang Indonesia yang pernah mendengar atau membaca bukunya, bahwa buku ini berakhir satir bagi bangsa merah putih. Hal yang satu itu, mungkin dianggap sangat penting bagi rakyat Indonesia, namun untungnya (atau sialnya?) tidak divisualisasikan dalam bentuk film. Mungkin, kita yang hanya menonton film tanpa membaca bukunya, bertanya-tanya ke mana harta curian yang terus mengikuti Allan dalam kisah ini? Tapi begitu tahu ending ceritanya di buku, luar biasa! Dan… yang membuat luar biasa adalah setidaknya itulah gambaran seorang penulis Swedia tentang Indonesia. Mungkin, inilah waktunya bagi orang Indonesia untuk berintrospeksi.

My ratings

  • Story 6/10
  • Graphic 7/10
  • Audience grasp 7/10
  • Tagline/theme association 7/10
  • Moral value 8/10
  • Personal IMDb rating 6/10
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s