Stand by Me Doraemon (2014)

Identitas Film

standbyme_doraemonCensor rating: G
Duration: 95 minutes
Genre: Anime/animation, comedy, drama
Language: Japanese
Release date: December 10, 2014
IMDb rating: 7.5/10
Directors: Ryuichi Yagi, Takashi Yamazaki
Casts: Wasabi Mizuta, Megumi Ohara, Satoshi Tsumabuki, Yumi Kakazu

Sinopsis Official

What will happen to Nobita’s life after Doraemon leaves?

Resensi

Jujur saja, antisipasi film ini di kalangan masyarakat sangat tinggi. Kalian pasti merasakannya juga. Antusiasme masyarakat menyambut film yang serialnya diputar setiap Minggu pagi di era 1990-an ini tentu juga amat meroket, terutama setelah berita-berita dari Jepang mengutarakan bagaimana serunya suasana saat para artis menonton film ini di bioskop lokal; dan tentunya saat bagaimana sebagian besar dari mereka menitikkan air mata di tengah pertunjukan.

Tentu saja, film itu sudah masuk ke Indonesia, dengan judul Stand by Me Doraemon. Ada juga yang menyebutnya Doraemon Stand by Me (sebetulnya sama saja, toh maksudnya film yang itu juga). Sejak dinyatakan akan hadir di Blitzmegaplex Indonesia per 10 Desember 2014, antusiasme rakyat Indonesia, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa masih tinggi terhadap tokoh kartun yang dikenal oleh lintas generasi ini. Tak heran, saat berbagai cabang Blitzmegaplex mulai membuka penjualan karcis film ini, dalam beberapa hari langsung ludes seperti kacang goreng.

Nah, tentunya pada penasaran seseru apakah film ini? Lebih tepatnya, tentu orang-orang pada penasaran dengan akhir cerita Doraemon, bahwa apakah memang Doraemon akan meninggalkan Nobita dan apa jadinya hidup Nobita setelah tidak ada Doraemon? Pertanyaan ini tentu sudah terpikir sejak pertama kali orang mengenal Doraemon, dan dari promosi dan trailer yang ada, film ini telah didaulat sebagai pemberi jawabannya.

Buat yang sudah membaca buku-buku komiknya, film ini sebetulnya adalah semacam kliping dari beberapa kisah yang signifikan berpengaruh dengan masa depan Nobita yang pernah dikomikkan. Lucu dan menyegarkan, mengingatkan kita kembali pada memori masa kecil tentunya. Alat-alat ajaib Doraemon yang selalu menghiasi kreativitas anak, kembali dipertontonkan satu per satu. Mulai dari jubah tembus pandang (yang ternyata sudah ada jauh sebelum JK Rowling mengonsepkannya untuk James Potter dan putranya Harry), telur pembuat jatuh cinta, sampai kisah awal baling-baling bambu juga digelar semua.

Alat-alat ajaib ini memang amat banyak, namun di film tentu ada tema fokus yang ingin ditekankan soal tujuan Doraemon mengeluarkan alat-alat itu. Fokus kisah film ini, ternyata terletak pada kemampuan Doraemon mengubah masa depan Nobita. Bagaimana Nobita yang tadinya akan memperistri Jaiko ternyata bisa mengubah masa depannya setelah ditakut-takuti keturunannya dari generasi mendatang. Lho, jadi fokus temanya bukan soal “bagaimana hidup Nobita setelah Doraemon tidak ada”? Tunggu dulu.

Memang menjelang akhir film sempat disajikan tentang kehidupan Nobita di saat Doraemon akan meninggalkannya. Namun, bagi saya sisa ceritanya malah menimbulkan kesan garing, kalau tidak bisa saya katakan jelek atau antiklimaks. Betapa tidak. Adegan penutup justru membuat harapan akan suasana haru saat Doraemon berpisah dengan Nobita jadi hilang, dan pastinya akan terasa “kentang banget” (kena tanggung maksudnya). Saya yang tadinya berniat memberi rating 8, terpaksa menurunkan 2 rating menjadi 6, karena ending yang menurut saya antiklimaks ini.

Saya pun menyadari satu hal setelah film berakhir. Iklan dan promosi berlebihan tak akan sanggup mengoptimalkan acceptance masyarakat terhadap suatu film. Contoh film yang menurut saya persis seperti ini adalah Prometheus (2012), yang juga membuat saya kecewa dengan cara yang sama. Marketing action produsernya luar biasa, namun ternyata apa yang disuguhkan tidak berakhir klimaks dan justru menimbulkan pertanyaan baru. Padahal, ketika diiklankan, film ini seolah adalah tumpuan yang memberi jawaban dan pengetahuan atas segala tanya yang mengudara. Namun ketika ternyata film mendatangkan pertanyaan baru sekilas lubang menganga lebar, barulah mulut kita pun menganga mengapa kita percaya dengan iklan dengan sebegitu lugunya?

My Ratings

  • Story 6/10
  • Graphic 8/10
  • Audience grasp 8/10
  • Tagline/theme association 7/10
  • Moral value 6/10
  • Personal IMDb rating 6/10

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s